Monday, February 13, 2017

Pengalaman Tinggal Nomaden di Surabaya

Surabaya oh Surabaya..ada apa dengan Surabaya ?
Tiba-tiba saya teringat pada kota Surabaya.
Mungkin karena Surabaya adalah salah satu kota yang pernah saya tinggali dan  meninggalkan banyak cerita menarik yang cukup berkesan bagi saya.
Surabaya is a city with a lot of memories :)

Patung yang menjadi simbol kota Surabaya


Pertama kali berkunjung ke Surabaya

Pertama kali saya datang ke Surabaya yaitu sekitar awal bulan Februari tahun 2012. Jadi ceritanya waktu itu pak suami dipindah tugaskan dari kantor cabang di Makassar ke kantor cabang di Surabaya, dan suami berangkat duluan menuju Surabaya. Suami ke Surabaya dan saya pun pulang ke Bandung. Kami sepakat apabila sudah mendapat ‘tempat tinggal’ baru di Surabaya, saya pun akan datang menyusul.

Sekitar dua minggu di Surabaya, pak suami memberi kabar bahwa pak suami sedang sakit terkena gejala tipes, sebagai istri saya pun memutuskan untuk segera datang menyusul ke Surabaya, sekalian bersama bapak dan mamah yang ingin ikut mengantar.

Dengan beberapa pertimbangan, kami bertiga berangkat dari Bandung menuju Surabaya menggunakan kereta api. Perjalanan dari Bandung ke Surabaya menggunakan kereta api memakan waktu sekitar 12 jam. Jadi kami berangkat dari stasiun Bandung menuju stasiun Gubeng, Surabaya menggunakan kereta api Mutiara Selatan dengan jam keberangkatan sore hari yaitu sekitar pukul 16.00 dan tiba di Surabaya pada pukul 06.00 pagi.

Baca juga : Pengalaman Seru dan Tak Terlupakan Salah Naik Kereta Api dari Bandung ke Surabaya

Setiba di Surabaya saya langsung mencicipi salah satu makanan khas kota Surabaya yaitu lontong balap sebagai menu sarapan. Oya, sebagai orang yang baru pertama kali makan lontong balap saya cukup dibuat terkesima karena ternyata lontong balap ini disajikan dengan tumpukan toge yang lumayan banyak *serasa makan sayur toge deh haha dan menu lontong balap ini memiliki 'teman setia' yaitu sate kerang.

Disitu ada lontong balap pasti ada sate kerang | salah satu makanan khas Surabaya | photosource : inijie.com


Tinggal di tempat kost

Pertama kali tinggal di Surabaya, saya dan suami tinggal di sebuah kamar kos di daerah Kedungsari. Sebuah kamar kos berukuran 2x2m dengan kamar mandi dalam. Tempat kost tersebut terletak di tengah kota Surabaya, yaitu sekitar 5 menit dari plaza Tunjungan (salah satu mal terbesar di Surabaya). Dan tempat kost tersebut sengaja dipilih karena lokasinya yang memang berdekatan dengan kantor suami.

Kalo ga salah saya tinggal di kost-an tersebut selama kurang lebih satu bulan, karena kemudian saya dan suami memutuskan untuk mencari tempat tinggal baru yang lebih layak untuk kita berdua tempati.


Tinggal di paviliun

Setelah mulai sedikit ‘gerah’ tinggal di kamar kost, karena 4L (Lu lagi Lu Lagi), hehe, pak suami mendapatkan informasi bahwa ada paviliun yang disewakan di jalan Gubeng Kertajaya, maka kami pun segera pergi mengunjungi tempat tersebut.

Di TKP kami mendapati sebuah paviliun yang terdiri dari sebuah kamar tidur, sebuah kamar mandi dan sebuah ruang tamu. Pemiliknya adalah seorang ibu keturunan Arab yang tinggal dengan dua orang anaknya. Dan setelah dirasa cocok dan sepakat dengan harga sewa per bulannya, kami pun memutuskan untuk segera pindah ke paviliun tersebut.

Lokasi paviliun baru kami ternyata dekat dengan Universitas Airlangga (Unair), salah satu universitas yang terkenal di Surabaya, memang sedikit lebih jauh dari kantor suami tapi tak mengapa, yang penting tinggal di paviliun sedikit lebih nyaman dibanding harus tinggal di kamar kost.

Sekitar tiga bulan kami tinggal di paviliun tersebut, tempat dan lingkungannya cukup nyaman, lingkungannya bersih dan mudah untuk mencari makanan. Tapi yang disayangkan, selama tinggal disitu, saya menghadapi sebuah masalah yang identik dengan kehidupan rumah tangga yaitu kesulitan untuk menjemur pakaian haha.
Iya, ternyata saya baru tahu, kalo wilayah Gubeng Kertajaya tersebut merupakan wilayah percontohan, di mana semua gang atau jalan ditata rapi, sepanjang jalan diberi tanaman dan para warganya sepakat untuk menerapkan peraturan tidak boleh menaruh jemuran di depan rumah.
Dan suatu hari sempat terjadi sebuah hal yang kurang mengenakkan antara pemilik rumah dan warga sekitar, si ibu pemilik rumah sepertinya ditegur. Gara-garanya karena ketidaktahuan, saya pernah beberapa kali menaruh jemuran berukuran kecil di halaman depan dan di seberang jalan, waduh..

Selama tinggal di paviliun tersebut, saya memang memanfaatkan jasa cuci setrika yang bisa diantar jemput tapi ada kalanya saya harus menjemur beberapa pakaian lain seperti pakaian dalam atau handuk. Ibu pemilik paviliun sempat menawarkan untuk menjemur di tempat jemuran miliknya saja yang ada di lantai atas, tapi saya merasa kurang nyaman. 
Maka akhirnya saya dan suami pun memutuskan untuk mencari rumah kontrakkan saja, dengan berbagai pertimbangan, demi kenyamanan bersama, seperti apabila suatu waktu bapak dan mamah atau kerabat dan teman ada yang datang berkunjung ke Surabaya, maka kita akan dengan senang hati menyambut dengan mengajak mereka untuk datang berkunjung ke rumah kontrakkan kami :)

Karena pernah lho, suatu waktu bapak dan mamah datang berkunjung ke Surabaya, dan mereka harus menginap di sebuah penginapan, khan sayang tuh uangnya, daripada mesti ngeluarin uang buat penginapan selama 3 malam mendingan uang tersebut dipake jalan-jalan keliling kota Surabaya plus buat beli oleh-oleh khas Surabaya yang enak-enak, kayak bandeng presto, almond cookies dan masih banyak lagii :)


Tinggal di rumah kontrakkan

Setelah sempat tinggal di kost-an dan paviliun, kami pun hunting rumah kontrakkan dan akhirnya mendapatkan sebuah rumah yang cukup nyaman dan sesuai untuk kami. Rumah tersebut terletak di sebuah daerah bernama Semampir , nun jauh di daerah timur Surabaya. Sebenernya ga jauh-jauh amat sih, hehe tapi memang sedikit agak jauh dari pusat kota.
Daerah Semampir ini berdekatan dengan jalan baru (jalan Soekarno) yang terbentang lurus ke arah barat menuju daerah Rungkut. Kabarnya sih di area tersebut akan dibangun jalan tol langsung menuju bandara Juanda. Oya, di jalan Soekarno ini ada dua tempat makan enak yang wajib coba, yaitu bebek goreng Harissa dan Dimsum.


Disadari atau tidak, mencari tempat tinggal itu sama halnya dengan mencari jodoh lho hehe..iya, soalnya cocok-cocokan. Rumah yang kemudian kami tempati selama setahun lebih itu sebenarnya tak sengaja kami temukan. Awalnya kami datang ke daerah tersebut untuk survey rumah kontrakkan yang diiklankan di surat kabar  dan ternyata rumah-rumah yang ada di iklan dan sudah kami tandai tersebut rata-rata berukuran besar dan tidak sesuai dengan budget yang kami miliki. Sampai akhirnya kami pun bertemu dengan rumah yang kami anggap sebagai "jodoh" alias rumah kedua.
 .
Dan kami sangat bersyukur, karena sang pemilik rumah menyewakan rumah tersebut sekalian dengan furniture dan sebagian barang kebutuhan rumah tangga lain seperti kompor, kulkas, piring dan lain-lain ..wah kebetulan sekali :)

Salah satu hal yang sangat dibutuhkan oleh keluarga kecil seperti kami yang sering berpindah-pindah dan hanya akan tinggal di sebuah kota untuk sementara waktu adalah tempat tinggal yang sudah lengkap beserta isinya. Jadi kalo sewaktu-waktu diharuskan untuk pindah ke kota lain, kita tidak mesti repot-repot bawa perabotan atau beli barang peralatan rumah tangga baru lagi.

Dan setelah satu tahun setengah tinggal di Surabaya, pak suami dipindah tugaskan ke Bandung yang artinya kami pun akhirnya kembali ke Bandung alias pulang kampung. 
Sebuah pengalaman yang tak terlupakan, tinggal berpindah-pindah dan kami menikmatinya :)

Baca juga : Perlengkapan rumah tangga yang harus dimiliki ketika pertama kali pindah rumah 













No comments:

Post a Comment