Tuesday, March 28, 2017

Wisata Kuliner Singkat di Kota Semarang

Semarang adalah ibu kota provinsi Jawa Tengah yang berjarak sekitar 450 km dari kota Bandung. Dan minggu lalu saya melakukan perjalanan darat menuju Semarang menggunakan bis yang membutuhkan waktu sekitar sekitar 8 jam-an untuk tiba di kota Semarang.

Jujur, saya baru pertama kali mengunjungi kota Semarang. Kesan pertama tiba di Semarang, lalu lintas nya cukup tertib dan tidak terlalu ramai akan tetapi udara di siang hari lumayan panas ya apabila dibandingkan dengan cuaca di kota Bandung yang relatif lebih sejuk. Tapi ga mengapa, yang penting di Semarang banyak jajanan kuliner menarik :)

Dan saya pun sempat mengunjungi beberapa tempat kuliner yang menyajikan makanan khas Semarang. Makanannya enak-enak lho..sampai-sampai setiba di Bandung, berat badan saya sedikit bertambah gara-gara makan enak terus haha.


Jalan-jalan ke Semawis

Hari pertama setelah tiba di penginapan dan beristirahat sebentar, saya diajak oleh teman sekamar untuk lanjut jalan-jalan ke sebuah daerah pecinan di kota Semarang yang bernama Semawis.

Sepertinya kalo di Bandung, Semawis itu mirip dengan kawasan Cibadak (kawasan pecinan di Bandung). Nah berdasarkan informasi, setiap akhir pekan mulai hari Jumat malam, Sabtu malam dan Minggu malam, di kawasan Semawis ini banyak sekali pedagang dengan jajanan kuliner yang khas dan menarik. Maka kami pun memanfaatkan waktu di minggu malam untuk datang berkunjung ke daerah Semawis tersebut.

Berfoto di gerbang kawasan Semawis, Semarang

Karena bertiga, kami pun memutuskan untuk menggunakan angkutan taksi untuk menuju Semawis. Ternyata jarak dari hotel tempat kami menginap ke Semawis hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit saja. Dan kami beruntung, karena hari minggu malam itu, kawasan Semawis masih buka dan ramai oleh berbagai macam pedagang jajanan kuliner khas Semarang.

Es Cong Lik

Di Semawis banyak sekali ragam jajanan yang dipasarkan, mulai dari makanan berat, makanan ringan, hingga dessert seperti es krim. Malam itu cuaca di kota Semarang lumayan gerah, sehingga ketika teman saya mengajak untuk mencicipi jajanan es khas Semarang yaitu es Cong Lik, saya pun langsung meng-iya-kan.

Es Cong Lik ini adalah sebutan untuk es puter yang sudah melegenda di Semarang. Jadi ceritanya, nama es Cong Lik ini merupakan sebuah singkatan dari kata Kacong dan Cilik , Kacong = pembantu dan Lik = cilik. Jadi alkisah, es Cong Lik ini pertama kali diciptakan oleh seseorang yang bernama Sukimin. Waktu itu (selepas jaman penjajahan di Semarang), Sukimin bekerja sebagai pembantu pada seorang pedagang es puter. Dan Sukimin berfikir bahwa suatu hari dia harus mandiri supaya bisa berjualan es puter sendiri dan tidak menjadi kacung terus. Hingga akhirnya Sukimin pun berhasil dan  es Cong Lik pun menjadi terkenal di kota Semarang sampai sekarang.

Es Cong Lik merupakan salah satu makanan khas di Semarang dan wajib untuk dicoba, tekstur es nya sangat lembut, berbeda dengan es puter lain yang sebelumnya pernah saya cicipi,  rasa sirupnya pun khas ditambah dengan topping kelapa dan rasa buah-buahan. 
Es Cong Lik ini memiliki beberapa varian rasa seperti sirsak, coklat, kelengkeng, blewah dan bahkan durian. Satu porsinya dihargai sekitar 15ribu rupiah.

Es Cong Lik..es puter yang lembut | photo source :hp4jateng.wordpress.com

Supaya ga penasaran kami mencoba beberapa varian rasa yang digabung dalam satu wadah dan kami menyantap es Cong Lik tersebut rame-rame alias satu mangkuk bertiga hehe. Dengan alasan kami baru saja makan, perut masih terasa penuh dan tentunya kami masih ingin mencicipi jajanan khas lainnya yang ada di Semawis :)

Jamu kuno khas Semarang Jamu Jun

Selain es Cong Lik, salah satu jajanan khas semarang yang menarik perhatian saya adalah jamu kuno yang bernama Jamu Jun. Entah kenapa waktu itu saya tidak bertanya banyak soal sejarah si jamu Jun ini pada si ibu penjual jamunya.

Yang pasti secara tampilan, minuman jamu Jun ini mirip bubur kacang hijau dalam versi cair tanpa ampas. Jamu tersebut disimpan dalam wadah berbentuk kendi dan centongnya mirip centong penjual minuman bajigur kalo di Bandung.

Jamu Jun dengan taburan merica bubuk : photo source: blog.unnes.ac.id
Jamu Jun terbuat dari campuran air, tepung beras, tepung ketan ,santan, gula, daun pandan dan rempah-rempah yang konon terdiri dari 18 macam rempah :), yang diantaranya terdiri dari jahe, serai, merica dan kayu manis.

Walaupun sudah jarang ditemui, jamu Jun juga biasa dijual oleh penjual keliling | photo source : oyinayashi.blogspot.com
Pertama mencicipi jamu Jun, rasa hangat langsung mengaliri tenggorokan, rasanya manis dan lembut. Dan yang istimewa, jamu Jun ini di beri taburan bubuk merica yang memberi tambahan rasa hangat, cocok sekali dinikmati di sore atau malam hari terutama di kala cuaca dingin.
Jamu Jun ini disajikan dalam sebuah mangkuk kecil seukuran mangkuk sekoteng dan dimakan menggunakan sendok seng. Cukup dengan Rp 5000, kita sudah bisa mencicipi rasa jamu Jun yang istimewa.

Walaupun namanya menggunakan istilah jamu, minuman ini tidak seperti jamu pada umumnya. Oya, selain rasa hangat dari bubuk merica, rasa hangat juga diperoleh dari topping berbentuk bulatan-bulatan kecil seperti kacang sukro yang disebut dengan krasikan. Krasikan ini dibuat dari parutan kelapa, jahe parut, gula merah dan tepung ketan. Jamu Jun bisa membantu menghangatkan tubuh dan buat temen-temen penyuka kuliner, kalo jalan-jalan ke Semarang, jangan lupa cobain jamu Jun yah :)


Pisang Plenet

Begitu banyak penjual makanan yang berjajar di sepanjang kawasan Semawis, saking banyaknya saya jadi bingung mau nyicip yang mana lagi hihi. Untung perut masih lumayan kenyang, kalo engga, mungkin semua makanan yang menarik dan menggoda hati, udah saya cicipi :) *lapar mata setengah kalap :p
Sambil berjalan menuju arah pulang, mata kami tertuju pada sebuah gerobak yang menjual makanan khas berupa pisang bakar yang disebut dengan nama pisang plenet. Setelah kami hampiri, ternyata pisang plenet ini adalah pisang bakar yang bentuk pisangnya dibentuk menjadi pipih bulat terlebih dahulu baru kemudian dibakar di atas bara api. Kemudian bagian atas pisang tersebut ditaburi berbagai macam pilihan topping seperti coklat, keju, susu dan sebagainya.
 
Pisang Plenet | photo source : jdfoodiary.blogspot.co.id

Oya, satu hal yang berkesan setelah berkunjung dari Semawis adalah ketika akan kembali pulang ke penginapan, kami kesulitan mendapatkan angkutan taksi ataupun angkutan online sehingga karena tidak ada pilihan kami pun memutuskan untuk naik becak saja. Dan yang berkesan, kami naik becak, satu becak bertiga, waduhh, mudah-mudahan mamang becaknya ga 'keberatan' mesti nganter kita bertiga, malam-malam pula. Begitu nyampe di penginapan, saya jadi ngerasa sedikit feeling guilty sama si mamang becaknya, alias kasihan juga, soalnya ternyata jaraknya lumayan jauh dan lumayan 'menantang', karena waktu itu si mamang membawa kita di jalanan yang arahnya satu jalur *eaa. Tapi walaupun begitu, itu adalah salah satu pengalaman menarik yang tak terlupakan, malam-malam naik becak bertiga di kota orang haha.

Wefie di atas becak | seru sekaligus deg-degan | abaikan gambar yang sedikit goyang karena becaknya goyang-goyang :)

Kampung Laut, Semarang

Hari ke dua di Semarang, saya sempat berkunjung dan makan malam di sebuah restoran seafood bernama Kampung Laut.

Begitu sampe Kampung Laut, langsung foto-foto doongs :)

Restoran Kampung Laut ini memiliki tempat parkir yang lumayan luas. Di bagian depan terdapat sebuah toko yang menjual berbagai macam pakaian dan kain batik yang bisa dijadikan sebagai oleh-oleh.

Begitu memasuki pintu masuk ke dalam restoran, kami disambut oleh pemandangan yang indah dan  menarik. Karena sore itu bertepatan dengan menjelangnya matahari terbenam (sunset) maka langit Semarang mulai sedikit redup dan mulai diwarnai oleh temaram cahaya matahari yang berwarna semu oranye. Dan lampu-lampu yang mulai dinyalakan pun seakan ikut menambah romantis suasana di kampung laut ini.

Menjelang malam, lilin-lilin mulai dinyalakan dan menambah suasana romantis di Kampung Laut
Candid | pic taken by Teh @Feywardhani
Menjelang Sunset di Kampung laut

Restoran Kampung laut ini menawarkan konsep yang menarik, tempat makannya  didesain berupa saung-saung dengan atap daun kelapa. Para pengunjung pun bisa memilih, makan sambil duduk di atas kursi atau sambil duduk lesehan. 
 
Saung di atas kolam

Dan yang menarik, pengunjung juga bisa memancing ikan. Waktu itu saya lihat, ada beberapa orang yang sedang memancing di pinggir kolam di sekitar kawasan Kampung Laut.
Alat pancing boongan yang digunakan oleh anak-anak untuk memancing ikan di Kampung Laut

Seru yah, tempat nya sangat cocok untuk dijadikan sebagai salah satu tempat tujuan wisata keluarga. Ramai-ramai menikmati makanan laut segar sambil berekreasi menikmati suasana dan pemandangan indah.

Salah satu spot makan di Kampung Laut yang menghadap ke arah matahari tenggelam
 
Suasana malam hari di Kampung laut beneran romantis lho

Sebenarnya masih banyak kuliner khas Semarang yang belum sempat saya cicipi, rasanya waktu berlalu begitu singkat karena saya harus segera kembali ke Bandung.
Dan apabila ada kesempatan di lain waktu, saya pengen banget bisa berkunjung lagi ke Semarang dan menjelajahi berbagai tempat yang menawarkan berbagai macam makanan khas Semarang lainnya yang wajib dicicipi.

Tentunya dengan lebih banyak foto dokumentasi yang lebih menarik karena, pas jalan-jalan ke Semawis tempo hari itu, sayang sekali batere handphone saya plus power bank nya pas habis dan belum sempat di charge.

Semarang..tunggu aku yaa :)









No comments:

Post a Comment