Sunday, February 26, 2017

Berkunjung ke Museum Geologi Bandung

Museum Geologi, Bandung, sebuah museum yang terletak di Jl. Diponegoro, sebuah area di pusat kota Bandung, tak jauh dari Gedung Sate  dan dapat ditempuh hanya dengan berjalan kaki selama 5 menit saja.

Museum geologi bandung | photo source : wisatamuseum.com

Lokasinya yang strategis membuat museum ini menjadi salah satu museum favorit para pelajar baik di kota Bandung maupun pelajar luar Bandung.
Buktinya dulu ketika saya masih duduk di bangku SMP (Sekolah Menengah Pertama), museum Geologi ini menjadi salah satu tempat favorit tujuan saya buat ‘mabal’. Mabal adalah bahasa Sunda yang artinya bolos jam pelajaran sekolah haha. Btw mabal kok ke museum yak .. mabal intelek judulnya iya khan?.. daripada mabal nya ke mal ngabisin duit mendingan mabal ke museum .. khan bisa dapet pengetahuan baru hahaha #ngeles #keukeuh *mabal is mabal neng :p

Mengajak anak-anak berkunjung ke Museum Geologi

Pada suatu waktu, bertepatan dengan masa liburan sekolah, kakak laki-laki saya bersama ketiga orang anaknya datang berkunjung ke rumah. Dan karena saat itu masa liburan panjang sekolah, mereka memutuskan untuk menghabiskan masa liburannya di Bandung. Maka sebagai tante yang baik saya pun mempunyai tugas untuk membuat jadwal kegiatan mereka selama berlibur di Bandung.

Saya ingin waktu liburan mereka tidak hanya dihabiskan untuk bermain atau melakukan kegiatan yang ‘kurang bermanfaat’. Maka saya pun mengatur jadwal kegiatan untuk mereka salah satunya yaitu mengajak anak-anak ikut serta berkunjung ke museum Geologi.
Maka berangkatlah kami berenam menuju museum Geologi, saya, tiga orang keponakan berusia 11 tahun, 4 tahun dan 2 tahun serta dua orang asisten rumah tangga yang juga ikut untuk membantu mengawasi mereka.

Setiba di museum Geologi kami diharuskan untuk membeli tiket masuk yang harganya sangat terjangkau sekali, yaitu Rp 2000 per orang untuk pelajar atau mahasiswa serta Rp 3000 untuk wisatawan domestic serta Rp 20.000 untuk wisatawan asing. Apalagi kalau dibandingkan dengan MANFAAT yang diperoleh, mengajak anak-anak ke museum Geologi menjadi sebuah kegiatan wisata edukatif yang sangat disarankan.

Mengenal museum geologi

Museum Geologi berdiri sejak tahun 1928 yang artinya sudah berusia lebih dari 80 tahun. Museum ini pernah direnovasi dengan menggunakan bantuan dana dari pemerintah Jepang senilai 754,5 juta yen dan ditutup selama 1 tahun hingga kemudian dibuka kembali dan diresmikan oleh mantan wakil presiden RI, Megawati Soekarno Putri pada tanggal 23 Agustus 2000.

Di dalam museum Geologi ini tersimpan materi-materi geologi seperti fosil, batuan dan mineral yang berharga dan merupakan bagian dari sejarah sehingga harus dilestarikan keberadaannya dan dilindungi oleh pemerintah.
Museum Geologi dirancang dengan gaya art deco oleh seorang arsitek Belanda bernama Menalda van Schouwenburg dan dibangun selama 11 bulan dengan bantuan 300 orang pekerja serta menghabiskan dana sebesar 400 gulden.

Sekarang museum Geologi memiliki penataan baru yang terdiri dari 2 lantai dan terbagi menjadi beberapa ruang pamer yang menempati lantai 1 dan 2.
Di lantai 1 terdapat fosil-fosil binatang purba seperti dinosaurus sedangkan di lantai 2 terdapat koleksi batuan dan mineral yang merupakan bagian dari sejarah kehidupan manusia seperti proses terbentuknya bumi.

Selain sebagai ruang pamer, museum Geologi juga mengadakan kegiatan antara lain penyuluhan, pameran, seminar serta kegiatan survey penelitian untuk pengembangan peragaan dan dokumentasi koleksi.

Jam operasional museum geologi

Museum Geologi bandung buka setiap hari Senin – Kamis mulai pukul 08.00 - 16.00 sedangkan hari sabtu dan minggu buka mulai pukul 08.00 – 14.00 wib. Dan khusus untuk hari jumat dan hari libur nasional, museum Geologi ini tidak beroperasi alias tutup.

Oya, untuk rombongan anak-anak sekolah, museum geologi juga menerima reservasi melalui system online yaitu melalui website museum Geologi www.museum.geology.esdm.go.id
Hal ini tentunya sangat membantu dan memudahkan pengunjung yang ingin datang berkunjung ke museum Geologi Bandung, apalagi banyak sekali pengunjung yang mayoritas adalah pelajar dan datang dari berbagai kota di seluruh Indonesia.

Kesan yang Diperoleh Setelah Berkunjung ke Museum Geologi

Berkunjung ke museum Geologi merupakan sesuatu yang baru bagi anak-anak dan tentunya menarik perhatian. Dan tugas kita sebagai orangtua atau orang yang lebih dewasa adalah mendampingi dan membantu memberikan penjelasan yang dapat dipahami secara mudah oleh anak-anak sesuai usianya.

Dan yang menarik di lantai dua terdapat sebuah ruangan yang didalamnya terdapat area simulasi terjadinya gempa akibat gelombang tsunami. Anak-anak tampak antusias sekali ketika mencoba alat simulasi gempa tersebut. Bahkan kemudian mencobanya berulang-ulang.
Salah seorang keponakan saya yang duduk di kelas 5 SD (sekolah dasar) di salah satu sekolah islam di Cibubur kemudian menceritakan pengalamannya berkunjung ke museum Geologi, Bandung di hadapan teman-temannya di kelas. Respon teman-temannya yang mendengarkan cerita tersebut sangat beragam dan rata-rata ikut antusias dan ingin sekali bisa berkunjung ke museum geologi terutama untuk melihat langsung fosil dinosaurus :).

Jadi yuk manfaatkan tempat-tempat bersejarah yang ada di sekitar kita seperti museum untuk berwisata edukasi bersama keluarga. Anak-anak pasti senang sekali dan tentunya kita pun dituntut untuk se-kreatif mungkin mengemas acara kunjungan tersebut menjadi kunjungan yang penuh petualangan menarik.

Selamat mencoba dan selamat jalan-jalan ke museum ya !

Referensi   : id.Wikipedia.org

Wednesday, February 22, 2017

Berkunjung ke Museum Sampoerna Surabaya

Museum Sampoerna adalah.sebuah museum yang terletak di kota Surabaya. Begitu mendengar namanya tentu kita akan menebak bahwa museum tersebut ada hubungannya dengan salah satu nama pengusaha rokok nasional terkenal di Indonesia yaitu A.H.M Sampoerna. Ya museum Sampoerna atau juga dikenal dengan sebutan House of Sampoerna merupakan salah satu tempat tujuan wisata yang sangat menarik dan bisa anda kunjungi ketika anda berada di kota Surabaya.
Dan saya sendiri baru tahu kalo museum tersebut ada, ketika saya tinggal di Surabaya, setelah melihat sebuah postingan foto seorang teman yang kala itu berfoto di museum tersebut hehe.

Berfoto di salah satu spot di House of Sampoerna
Pertama berkunjung ke museum Sampoerna saya datang bersama suami dan untuk kunjungan kedua saya datang dengan mengajak serta kedua orang tua saya yang saat itu sedang berkunjung ke Surabaya.

Mamah dan bapak tercinta ketika berkunjung ke House of Sampoerna Surabaya

Lokasi Museum Sampoerna

Museum Sampoerna berlokasi di jl. Taman Sampoerna no 6 Surabaya. Sebenarnya lokasinya terletak di tengah kota, tak jauh dari area Jembatan Merah yang terkenal itu, tapi entah mengapa pertama kali berkunjung ke sana perjalanan terasa agak jauh alias sepertinya sedikit nyasar kali ya haha.

Lokasi museum Sampoerna Surabaya | photo source : wisatamuseum.com

Dan apabila menggunakan kendaraan umum, berdasarkan informasi yang saya peroleh, kita bisa menggunakan bus dari Terminal Surabaya dengan tujuan Jembatan merah. Dari Jembatan Merah Plaza (JMP), lokasi House of Sampoerna sudah terlihat dan kita bisa melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki atau naik becak.

Fasilitas Museum Sampoerna

Sebagai orang yang baru pertama kali berkunjung ke museum ini, saya baru tahu kalo museum Sampoerna menyediakan fasilitas berupa kendaraan gratis yaitu bus yang bisa digunakan oleh para wisatawan untuk berkeliling kota Surabaya, wah seru yaa :) ! Jadwal bus nya dimulai pukul 09.00 – 10.00 WIB, 13.00 - 14.00 WIB dan pukul 15.00 – 16.00 WIB.
Jadi persiapkan waktunya dengan matang apabila ingin menikmati fasilitas keliling kota Surabaya dari museum Sampoerna :).

Bus Surabaya Heritage Track yang akan membawa para wisatawan keliling kota Surabaya | photo source : surabaya.panduanwisata.id

Jam Operasional Museum Sampoerna

Museum Sampoerna buka setiap hari mulai hari Senin sampai dengan Minggu mulai pukul 09.00 - 22.00 WIB. Dan waktu itu saya berkunjung pada hari Minggu, sehingga sayang sekali saya melewatkan sebuah kegiatan yang sangat menarik, yaitu aktifitas para wanita pekerja melinting rokok.

Jadi di museum Sampoerna ini ada sebuah ruangan yang sampai saat ini masih digunakan sebagai tempat untuk membuat rokok dengan menggunakan peralatan tradisional yang mana semua pekerjanya adalah wanita yang berjumlah ribuan orang. Dan aktifitas tersebut hanya bisa kita lihat pada hari biasa (Senin - Sabtu) sebelum pukul 15.00 WIB.

Oya, museum Sampoerna buka sampai jam 10 malam karena selain museum dan galeri seni, di House of Sampoerna ini juga terdapat kafe yang bisa anda kunjungi setelah berkeliling di dalam museum ataupun untuk sengaja kita datangi untuk bersantap bersama keluarga atau orang tersayang. Tempatnya sangat nyaman dengan nuansa kafe yang membuat betah untuk duduk santai berlama-lama.

Galeri Seni Museum Sampoerna

Di dalam museum Sampoerna terdapat barang-barang memorabilia yang mewakili sejarah perjalanan perusahaan Sampoerna dari dulu hingga sekarang hingga bisa menjadi salah satu perusahaan rokok besar yang terkenal di Indonesia dan masih eksis sampai sekarang.

Barang-barang tersebut didesain sedemikian rupa menjadi sangat menarik, sehingga pengunjung menjadi betah dan ingin berfoto disitu.

Berfoto di balik kaca ruang pembuatan rokok Dji Sam Soe by Sampoerna | btw saya baru sadar kalo di kaca ada tulisan gambar kamera di coret alias no camera allowed | maap yak :p
Selain benda-benda yang berhubungan dengan sejarah perusahaan Sampoerna, ada juga barang-barang seni lain yang dijual di tempat tersebut seperti kain batik, lukisan dan benda-benda lain yang berciri khas Indonesia.

Ketika berkeliling di dalam museum Sampoerna, pengunjung bisa mendapatkan informasi detail dari guide yang standby bertugas disana. Para guide-guide tersebut ternyata banyak yang masih berstatus sebagai mahasiswa/i. dan mereka memanfaatkan kesempatan untuk menjadi tour guide di museum sebagai salah satu kegiatan yang bisa memberikan penghasilan bagi mereka. Its nice :)

Dan apabila ada kesempatan untuk berkunjung ke kota Surabaya lagi saya ingin datang lagi lho ke museum Sampoerna, karena masih banyak tempat-tempat disana yang belum saya eksplore dan belum saya foto haha. Ga tau kenapa waktu itu kok saya ga banyak ambil foto ya? *ho mungkin karena waktu itu saya masih pake handphone lama yang fitur kameranya kurang mumpuni hehe. Dan saya juga pengen banget bisa ikut tour on bus Surabaya Heritage Track, akan seru dan menyenangkan sepertinya :)

Menurut saya museum merupakan salah satu alternatif tempat tujuan wisata yang sangat menarik dan sarat dengan edukasi terutama apabila kita turut serta mengajak anak-anak. Anak-anak pasti senang karena mendapatkan pengalaman menarik dan mendapatkan banyak ilmu pengetahuan baru :).

Yuk ajak anak-anak untuk berkunjung ke museum !
Ga mesti jauh-jauh ke Surabaya, ajak saja dulu ke museum terdekat yang terletak di kota tempat tinggal kita sekarang :)




Monday, February 13, 2017

Pengalaman Tinggal Nomaden di Surabaya

Surabaya oh Surabaya..ada apa dengan Surabaya ?
Tiba-tiba saya teringat pada kota Surabaya.
Mungkin karena Surabaya adalah salah satu kota yang pernah saya tinggali dan  meninggalkan banyak cerita menarik yang cukup berkesan bagi saya.
Surabaya is a city with a lot of memories :)

Patung yang menjadi simbol kota Surabaya


Pertama kali berkunjung ke Surabaya

Pertama kali saya datang ke Surabaya yaitu sekitar awal bulan Februari tahun 2012. Jadi ceritanya waktu itu pak suami dipindah tugaskan dari kantor cabang di Makassar ke kantor cabang di Surabaya, dan suami berangkat duluan menuju Surabaya. Suami ke Surabaya dan saya pun pulang ke Bandung. Kami sepakat apabila sudah mendapat ‘tempat tinggal’ baru di Surabaya, saya pun akan datang menyusul.

Sekitar dua minggu di Surabaya, pak suami memberi kabar bahwa pak suami sedang sakit terkena gejala tipes, sebagai istri saya pun memutuskan untuk segera datang menyusul ke Surabaya, sekalian bersama bapak dan mamah yang ingin ikut mengantar.

Dengan beberapa pertimbangan, kami bertiga berangkat dari Bandung menuju Surabaya menggunakan kereta api. Perjalanan dari Bandung ke Surabaya menggunakan kereta api memakan waktu sekitar 12 jam. Jadi kami berangkat dari stasiun Bandung menuju stasiun Gubeng, Surabaya menggunakan kereta api Mutiara Selatan dengan jam keberangkatan sore hari yaitu sekitar pukul 16.00 dan tiba di Surabaya pada pukul 06.00 pagi.

Baca juga : Pengalaman Seru dan Tak Terlupakan Salah Naik Kereta Api dari Bandung ke Surabaya

Setiba di Surabaya saya langsung mencicipi salah satu makanan khas kota Surabaya yaitu lontong balap sebagai menu sarapan. Oya, sebagai orang yang baru pertama kali makan lontong balap saya cukup dibuat terkesima karena ternyata lontong balap ini disajikan dengan tumpukan toge yang lumayan banyak *serasa makan sayur toge deh haha dan menu lontong balap ini memiliki 'teman setia' yaitu sate kerang.

Disitu ada lontong balap pasti ada sate kerang | salah satu makanan khas Surabaya | photosource : inijie.com


Tinggal di tempat kost

Pertama kali tinggal di Surabaya, saya dan suami tinggal di sebuah kamar kos di daerah Kedungsari. Sebuah kamar kos berukuran 2x2m dengan kamar mandi dalam. Tempat kost tersebut terletak di tengah kota Surabaya, yaitu sekitar 5 menit dari plaza Tunjungan (salah satu mal terbesar di Surabaya). Dan tempat kost tersebut sengaja dipilih karena lokasinya yang memang berdekatan dengan kantor suami.

Kurang lebih satu bulan kami tinggal di kost-an tersebut, karena kemudian saya dan suami memutuskan untuk mencari tempat tinggal baru yang lebih layak untuk kita berdua tempati.


Tinggal Di Paviliun

Setelah mulai sedikit ‘gerah’ tinggal di kamar kost, karena 4L (Lu lagi Lu Lagi) hihi, kami bersyukur karena ada seorang teman yang memberikan informasi bahwa ada paviliun yang disewakan di daerah Gubeng, maka kami pun segera pergi mengunjungi tempat tersebut.

Sebuah paviliun di jalan Gubeng Kertajaya dengan satu buah kamar tidur, sebuah kamar mandi dan sebuah ruang tamu. Pemiliknya adalah seorang ibu keturunan Arab yang tinggal dengan dua orang anaknya. Dan setelah dirasa cocok dan sepakat dengan harga sewa per bulannya, kami pun memutuskan untuk segera pindah ke paviliun tersebut.

Lokasi paviliun baru kami ternyata dekat dengan Universitas Airlangga (Unair), salah satu universitas yang terkenal di Surabaya, memang sedikit lebih jauh dari kantor suami tapi tak mengapa, yang penting tinggal di paviliun sedikit lebih nyaman dibanding harus tinggal di kamar kost.

Sekitar tiga bulan kami tinggal di paviliun tersebut, tempat dan lingkungannya cukup nyaman, lingkungannya bersih dan mudah untuk mencari makanan. 

Tapi yang disayangkan, selama tinggal disitu, saya menemukan sebuah masalah baru yang terlihat sepele namun agak rempong juga buat emak-emak yang sudah berumah tangga, yaitu kita ga punya tempat untuk menjemur pakaian nih. Haha.
Iya, ternyata saya baru tahu, kalo wilayah Gubeng Kertajaya tersebut merupakan wilayah percontohan, di mana semua gang atau jalan ditata rapi, sepanjang jalan diberi tanaman dan para warganya sepakat untuk menerapkan peraturan tidak boleh menaruh jemuran di depan rumah. 
Dan suatu hari sempat terjadi sebuah hal yang kurang mengenakkan antara pemilik rumah dan warga sekitar, si ibu pemilik rumah sepertinya ditegur. Gara-garanya karena ketidaktahuan saya, yang pernah beberapa kali menaruh jemuran berukuran kecil di halaman depan persis di seberang rumah, waduh.

Selama tinggal di paviliun tersebut, saya memang memanfaatkan jasa cuci setrika yang bisa diantar jemput tapi ada kalanya saya harus menjemur beberapa pakaian lain seperti pakaian dalam atau handuk. Ibu pemilik paviliun sempat menawarkan untuk menjemur di tempat jemuran miliknya saja yang ada di lantai atas, tapi saya merasa kurang nyaman. 

Maka akhirnya saya dan suami pun memutuskan untuk mencari rumah kontrakkan saja, dengan berbagai pertimbangan, demi kenyamanan bersama, seperti apabila suatu waktu bapak dan mamah atau kerabat dan teman ada yang datang berkunjung ke Surabaya, maka kita akan dengan senang hati menyambut dengan mengajak mereka untuk datang berkunjung ke rumah kontrakkan kami :)

Karena pernah lho, suatu waktu bapak dan mamah datang berkunjung ke Surabaya, dan mereka harus menginap di sebuah penginapan, khan sayang tuh uangnya, daripada mesti ngeluarin uang buat penginapan selama 3 malam mendingan uang tersebut dipake jalan-jalan keliling kota Surabaya plus buat beli oleh-oleh khas Surabaya yang enak-enak, kayak bandeng presto, almond cookies dan masih banyak lagii :)


Tinggal di rumah kontrakkan

Setelah sempat tinggal di kost-an dan paviliun, kami pun hunting rumah kontrakkan dan akhirnya mendapatkan sebuah rumah yang cukup nyaman dan sesuai untuk kami. Rumah tersebut terletak di sebuah daerah bernama Semampir , nun jauh di daerah timur Surabaya. Sebenernya ga jauh-jauh amat sih, hehe tapi memang sedikit agak jauh dari pusat kota.
Daerah Semampir ini berdekatan dengan jalan baru (jalan Soekarno) yang terbentang lurus ke arah barat menuju daerah Rungkut. Kabarnya sih di area tersebut akan dibangun jalan tol langsung menuju bandara Juanda. Oya, di jalan Soekarno ini ada dua tempat makan enak yang wajib coba, yaitu bebek goreng Harissa dan Dimsum.


Disadari atau tidak, mencari tempat tinggal itu sama halnya dengan mencari jodoh lho hehe..iya, soalnya cocok-cocokan. Rumah yang kemudian kami tempati selama setahun lebih itu sebenarnya tak sengaja kami temukan. Awalnya kami datang ke daerah tersebut untuk survey rumah kontrakkan yang diiklankan di surat kabar  dan ternyata rumah-rumah yang ada di iklan dan sudah kami tandai tersebut rata-rata berukuran besar dan tidak sesuai dengan budget yang kami miliki. Sampai akhirnya kami pun bertemu dengan rumah yang kami anggap sebagai "jodoh" alias rumah kedua.
 .
Dan kami sangat bersyukur, karena sang pemilik rumah menyewakan rumah tersebut sekalian dengan furniture dan sebagian barang kebutuhan rumah tangga lain seperti kompor, kulkas, piring dan lain-lain ..wah kebetulan sekali :)

Salah satu hal yang sangat dibutuhkan oleh keluarga kecil seperti kami yang sering berpindah-pindah dan hanya akan tinggal di sebuah kota untuk sementara waktu adalah tempat tinggal yang sudah lengkap beserta isinya. Jadi kalo sewaktu-waktu diharuskan untuk pindah ke kota lain, kita tidak mesti repot-repot bawa perabotan atau beli barang peralatan rumah tangga baru lagi.

Dan setelah satu tahun setengah tinggal di Surabaya, pak suami dipindah tugaskan ke Bandung yang artinya kami pun akhirnya kembali ke Bandung alias pulang kampung. 
Sebuah pengalaman yang tak terlupakan, tinggal berpindah-pindah dan bisa menjadi cerita di kemudian hari.















Saturday, February 11, 2017

Belajar Decoupage di Media Anyaman

Saya lupa, kapan pertama kali mendengar tentang istilah Decoupage. Yang pasti, begitu saya tahu kalo Decoupage adalah sebuah seni menghias sebuah benda menjadi tampil baru saya pun langsung tertarik. Semacam makeover gitu kali ya 😗 

Saya memang seneng bereksperimen dengan benda-benda yang ada di rumah. Kalo lagi senggang saya suka bikin benda ala-ala DIY (Do It Yourself) gitu deh hehe.


Pengalaman Pertama Belajar Decoupage 



There’s always first time for everything.
 

Nah, saya pertama kali belajar Decoupage di sebuah tempat yang bernama Tobucil alias Toko Buku Kecil. Tobucil yang dulu masih terletak di Jln .Aceh, Bandung dan sekarang Tobucil sudah pindah ke tempat baru di Jln.Panaitan, daerah Jln.Sunda,Bandung.
Oya, saya mendapatkan informasi workshop Decoupage tersebut dari timeline twitter @tobucil . Saat itu saya pun langsung menghubungi nomor kontak yang tertera dan mendaftar, waktu itu saya merasa exciting sekali dan ga sabar menunggu hari Minggu tiba supaya bisa segera datang ke Tobucil dan mengikuti workshop decoupage tersebut haha.


Hari Minggu pun tiba, dan saya sudah siap untuk pergi ke Tobucil dengan tak lupa membawa sebuah celemek, loh kok bawa celemek? iya, setiap peserta disarankan memakai celemek, buat jaga-jaga supaya pakaian kita tetap bersih. Karena kegiatan Decoupage berkaitan dengan lem mengelem dan gunting menggunting.
Setiba di Tobucil, sudah ada sekitar empat orang peserta perempuan yang sedang menunggu dan akan bersama-sama belajar seni Decoupage, wah sepertinya seru ya :) 

Dan tak lama kemudian datang satu rombongan keluarga yang terdiri dari ibu, nenek serta tiga orang anak perempuan. Ternyata dua orang dari anak tersebut adalah kakak beradik yang juga akan mengikuti kegiatan Decoupage siang itu. Dan si adik masih sekolah di sekolah dasar lho.
Jadi kegiatan seni Decoupage ini memang tidak terbatas hanya untuk orang dewasa saja, akan tetapi bisa juga dilakukan oleh anak-anak usia sekolah, karena pada dasarnya kegiatan Decoupage ini terdiri dari kegiatan menggunting dan menempel, dan bagi anak-anak hal tersebut bisa menjadi sebuah sarana latihan untuk melatih gerakan motorik halus mereka.


Belajar Decoupage di Media Anyaman



Setelah semua peserta berkumpul, ibu Suyanti Tan selaku instruktur di kegiatan workshop Decoupage siang itu, langsung memberikan informasi dan pengarahan bahwa media yang akan di Decou menggunakan tissue adalah media anyaman berupa keranjang hantaran. Keranjang hantaran tersebut terdiri atas dua ukuran, besar dan kecil, masing-masing keranjang memiliki tutup.
Sebelum kegiatan dimulai, peserta dipersilahkan untuk memilih sendiri keranjang yang akan digunakan, dan saya pun memilih keranjang yang besar, sedangkan untuk tissue nya, semua peserta mendapatkan motif tissue yang sama yaitu motif daun berwarna hijau serta satu buah tissue motif lain dengan tulisan love, life dan live.
Setelah semua bahan dasar seperti keranjang, tissue, gunting, kuas dan lem diperoleh setiap peserta maka kegiatan mendecou pun sudah bisa dimulai.


Gunting, lem, kuas dan tissue (napkin khusus decoupage) merupakan peralatan wajib dalam kegiatan decoupage

Langkah- Langkah Mendecou Keranjang Anyaman :




1.  Gunting tissue sesuai alur motif yang diinginkan. BTW kegiatan menggunting tissue ini cukup menantang dan membutuhkan kesabaran loh :)
2.  Gunakan gunting khusus untuk decoupage, yaitu gunting berukuran kecil dengan ujung yang sedikit bengkok dan tajam. Hal tersebut akan memudahkan ketika kita menggunting lekukan motif tissue yang kecil atau runcing.
3.    Setiap lembaran tissue decoupage memiliki lapisan yang biasanya berjumlah 3 lapis. Dan untuk mencegah supaya tissue tidak mudah koyak dan memudahkan kegiatan menggunting, maka hindari membuka lapisan tissue tersebut, (buka lapisan tissue apabila kita sudah siap untuk menempel).

4.   Setelah selesai menggunting tissue, tempelkan guntingan tissue tersebut di atas permukaan media decou, sebaiknya atur terlebih dahulu tempelan tissue tersebut hingga komposisinya terlihat pas, simetris, dan cantik.

5.    Setelah komposisi letak tissue di atas media dirasa sudah pas dan sesuai, siapkan kuas.

6.   Celupkan kuas ke dalam lem khusus decoupage kemudian oleskan secara merata pada permukaan media yang akan ditempeli tissue.
7.   Tempelkan tissue secara merata kemudian olesi juga permukaan tissue yang sudah menempel menggunakan lem supaya kuat.
8.    Setelah selesai lapisi permukaan media dengan cairan varnish dengan tujuan supaya lebih awet dan tahan lama.

9.    Kemudian keringkan dengan menggunakan bantuan hairdryer.


Tampak atas tampilan keranjang anyam hasil decoupage milik saya


Selain belajar mendecou di media anyaman, di acara workshop Decoupage ini, para peserta juga diajarkan salah satu teknik Decoupage menggunakan cap. Saya sedikit lupa detailnya, yang pasti teknik tersebut sangat menarik dan dibutuhkan peralatan khusus untuk men-cap seperti roller, cat, karet stamp, tinta dan sebagainya.


Selain kuas, dibutuhkan sponge untuk mengelem permukaan tissue yang berukuran agak besar



Sebuah pengalaman yang menyenangkan bisa mengisi waktu dengan belajar seni Decoupage bersama dengan teman-teman baru  :)

Peserta yang ikut workshop decoupage di Tobucil berasal dari berbagai kalangan, ada pelajar, mahasiswa, instruktur yoga dan ibu rumah tangga :) It was a fun sunday :)


voila..ini dia keranjang anyam hasil decou pertama saya 😚 not bad lah buat pemula



Follow @sarrahgita On Instagram

© sarrah gita's blog. Made with love by The Dutch Lady Designs.