Di satu tahun terakhir, ada banyak aktivitas baru yang menarik perhatian saya.
Dua diantaranya erat kaitannya dengan lingkungan yaitu hiking dan plogging.
Ya saya mulai senang melakukan hiking, baik bersama pasangan ataupun rame-rame bersama rombongan dari komunitas.
Hiking adalah aktivitas berjalan kaki di alam terbuka seperti gunung, bukit, atau hutan.
Yang biasanya melewati jalan atau jalur setapak yang sudah ada dan tertata untuk rekreasi.
Lalu apa itu plogging?
Berkenalan dengan Plogging
Jujur, hingga saat ini saya baru dua kali melakukan kegiatan plogging.
Plogging adalah salah satu kegiatan olahraga yang menggabungkan jogging dengan kegiatan memungut sampah.
Awalnya saya juga baru tahu ada kegiatan ini dari salah satu postingan di media sosial.
Wah menarik juga nih.
Hingga akhirnya saya pun memutuskan untuk mendaftar dan bisa merasakan langsung keseruan dan manfaat dari aktivitas tersebut .
Asal Kata Plogging
Istilah plogging ini berasal dari bahasa Swedia, yaitu plocka app (memungut) dan jogga (berlari).
Muncul sekitar tahun 2016 di negara Swedia dan mulai meyebar dengan cepat ke berbagai negara lainnya.
Jadi kegiatan ini merupakan respon terhadap meningkatnya kesadaran masyarakat akan masalah pencemaran lingkungan terutama yang berkaitan dengan sampah plastik.
Pengalaman Pertama Ikut Plogging
Saya masih ingat pertama kali ikutan kegiatan plogging ini.
Waktu itu saya datang sendirian dan nyaris kesiangan.
Saya tiba di lokasi titik kumpul ketika semua peserta sudah datang semua.
Acara pun langsung dibuka dengan sesi perkenalan.
Yang saya ingat waktu itu, pesertanya mayoritas adalah perempuan.
Peserta laki-lakinya, ada sekitar dua orang kalo ga salah.
Waktu itu juga ada beberapa orang peserta yang membawa turut serta anak-anaknya yang masih dalam rentang usia sekolah dasar lho.
Saya setuju, kalo kegiatan ini bisa jadi sarana edukasi juga untuk anak.
Rute Plogging
Pagi itu kami berjalan kurang lebih 5 km, mengelilingi area jalan Gandapura – jalan Gudang Selatan – jalan Bangka - jalan Gudang Utara dan kemudian kembali lagi ke jalan Gandapura.
Kami sekitar 15 orang, bergerombol berjalan kaki sambil membawa kantong sampah.
Ada 4 kantong sampah besar yang dibedakan menjadi 4 kategori, yaitu kategori residu, plastik, kertas dan kaca.
Oya, sebelum memulai berjalan kaki, setiap peserta mendapatkan sarung tangan plastik, yang akan digunakan untuk memungut sampah.
Ternyata Tidak Semua Sampah Bisa Didaur Ulang
![]() |
| foto : pexels (Thirdman) |
Sebagai pemula, waktu itu saya pikir semua sampah yang terbuat dari kaca yang kita temukan di sepanjang jalan, masuk ke dalam kategori sampah kaca.
Rupanya hanya sampah yang terbuat dari kaca bening saja yang bisa kita ‘selamatkan’ untuk didaur ulang.
Karena faktanya sampah berbahan kaca yang memiliki lapisan cat seperti keramik, harus melewati beberapa proses khusus dan tidak bisa langsung didaur ulang begitu saja.
Begitupun dengan sampah plastik.
Dalam hal ini, sampah plastik dikelompokkan menjadi dua kategori.
Sampah plastik yang memang berwarna bening alias transparan.
Hingga sampah plastik yang memiliki lapisan lagi seperti, plastik kemasan pembungkus makanan ringan atau kertas alumunium yang ada di dalam kemasan rokok.
Nah untuk dua produk tersebut masuk ke dalam kategori sampah residu.
Apa Itu Sampah Residu
Sampah residu adalah sisa buangan yang tidk dapat didaur ulang, dikomposkan atau diuri secara alami.
Sampah ini biasanya berupa material campuran yang susah untuk dipisahkan.
Contoh sampah residu antara lain : popok sekali pakai, pembalut kewanitaan, tisu bekas pakai, puntung rokok, styrofoam.
Kemasan makanan multilayer seperti sachet kopi atau mie instan yang bercampur alumunium foil, masker medis sekali pakai dan sebagainya.
Sebagai informasi, saya juga baru tahu kalo struk belanja (kertas termal) juga termasuk sampah residu yang yang sulit untuk didaur ulang.
Baca juga : Gerakan Ekonomi Sirkular Indonesia, Olah Sampah Menjadi Uang
Manfaat Melakukan Plogging
![]() |
| foto : pexels (Haromhatar) |
Setelah mengikuti kegiatan plogging, saya takjub dengan hasil sampah yang berhasil diperoleh di sepanjang jalan yang kita lewati.
Hampir sekitar 3 kg sampah yang berhasil kita angkut.
Wow!
Kegiatan tersebut terlihat sepele tapi ternyata apabila dilakukan secara rutin bisa turut membantu pemerintah dalam membersihkan dan menjaga kebersihan lingkungan.
Plogging Kedua
Setelah merasakan manfaat dan melihat langsung dampak berkelanjutan dari kegiatan tersebut, di kegiatan plogging kedua, saya mengajak salah seorang teman untuk ikut berpartisipasi.
Teman sejak jaman kuliah saya dulu ini memang memiliki beberapa minat dan kesamaan pada hal-hal yang berkaitan dengan lingkungan.
Oleh karenanya saya memutuskan untuk mengajak beliau.
Dia pun langsung mengiyakan ajakan saya, padahal saat ini beliau tidak menetap di kota Bandung lagi.
Di plogging kedua, panitia mengemas acaranya menjadi lebih menarik, dengan mengadakan cooking class singkat.
Belajar mengolah makanan sehat untuk keluarga tercinta.
Tak heran peserta plogging kali ini pun didominasi oleh kaum perempuan.
Hubungan Plogging dan Perempuan
Well, tak hanya di kota Bandung saja, di beberapa kota lain di Indonesia juga terdapat komunitas perempuan dan ibu-ibu yang aktif memelopori kegiatan plogging untuk mengajak masyarakat peduli kebersihan lingkungan.
Dalam hal ini perempuan memang sering kali menjadi penggerak utama dalam membangun kebiasaan hidup bersih serta pengelolaan sampah dari lingkup rumah tangga.
Fakta menarik lainnya, gerakan membungkuk dan jongkok saat memungut sampah bisa memberikan variasi latihan otot (squat) yang efektif membakar kalori lebih banyak dibanding jogging biasa.
Yuk Cobain juga !



























