“SOD”.. “SOD” alias sampah organik dapur.
Tiga kata yang yang sering saya dengar dari Mang pengangkut sampah yang rutin berkeliling.
Setiap hari Senin dan Kamis di area tempat saya tinggal.
Ya sekitar 3 atau 4 bulan terakhir, Dinas Lingkungan Hidup kota Bandung mulai mengintensifkan lagi pengelolaan sampah mandiri melalui pemilahan sampah organik dan anorganik dari rumah.
Sebuah langkah nyata yang patut diacungi jempol.
Jadi ga ada lagi istilah, sampah udah dipilah dari rumah berdasarkan kategori, eh, di TPA (tempat pembuangan akhir) sampahnya malah digabung lagi.
Baca juga : 5 Alasan Mengapa Kita Harus Memilah Sampah
Yuk Mulai Menerapkan Memilah Sampah Dari Rumah
Sebenarnya program pengelolaan sampah di Bandung sudah ada sejak tahun 2018, melalui program KangPisMAn (Kurangi,Pisahkan dan Manfaatkan).
Namun penerapannya sendiri membutuhkan proses dan waktu yang tidak sebentar.
Saya setuju apabila kolaborasi menjadi kunci dalam hal pengelolaan sampah di kota Bandung.
Khususnya kolaborasi dari lima pemangku kepentingan utama yaitu pemerintah, akademisi, badan/pelaku usaha, masyarakat/komunitas dan media (pentahelix).
Faktanya sampah bukan sekadar limbah, sampah bernilai ekonomi apabila dikelola dengan baik.
Apabila dikumpulkan, harga sampah botol plastic (jenis PET bening seperti botol air mineral) berkisar antara Rp 2000 hingga Rp 7000 per kg nya.
Tergantung kondisi botol dan pengepul.
Satu kilogram setara dengan sekitar 40 botol kemasan 600ml.
Selain sampah anorganik seperti plastik, sampah organik (limbah yang berasal dari sisa mahluk hidup seperti sisa makanan, kulit buah, daun kering ) pun bisa diolah menjadi pupuk kompos, menjadi pakan ternak hingga menjadi bahan pembuatan biogas.
Alhamdulillah sejak 5 tahun terakhir saya juga sudah mulai mengelola sampah organik sendiri di rumah. Menggunakan media komposter.
Nah salah satu badan/pelaku usaha yang sudah aktif bergerak di bidang pengelolaan sampah di Bandung adalah Bank Sampah Bersinar (BSB).
Bank Sampah Induk Bersinar merupakan Pusat Edukasi dan Jasa Pengelolaan Sampah Terpadu yang berlokasi di Jl. Terusan Bojongsoang no 174, Bale Endah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Belajar Ekonomi Sirkular dari Bank Sampah Bersinar
Apabila selama ini, Indonesia erat dengan system ekonomi linier yang menggunakan alur Ambil (Take) - Buat (Make) – Buang (Dispose).
Maka secara regeneratif, konsep pendekatan ekonomi sirkular akan menggantikan sistem ekonomi tradisional tersebut.
Dalam hal ini gerakan ekonomi sirkular sangat penting untuk mengatasi isu pengelolaan sampah/limbah.
Apa itu ekonomi sirkular?
Secara garis besar ekonomi sirkular merupakan model ekonomi yang fokusnya adalah memaksimalkan penggunaan sumber daya.
Memperpanjang siklus hidup produk serta menekan limbah melalui prinsip 5R : Reduce, Reuse, Recycle, Recover dan Repair.
Selain untuk mengatasi isu pengelolaan limbah, pendekatan ekonomi sirkular juga mendukung pelestarian lingkungan, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Bagaimana Sampah Bisa Menjadi Sumber Ekonomi Keluarga?
Yayasan Solusi Bersinar Indonesia (YSBI) bersama Bank Sampah Induk Bersinar merupakan organisasi sosial yang sedang menargetkan pembentukan 1.000 Bank Sampah Unit (BSU) sebagai bagian dari penguatan gerakan ekonomi sirkular berbasis masyarakat.
Program ini menjadi fondasi pembangunan Living Laboratory Ekonomi Sirkular Indonesia yang akan dikembangkan di kawasan Oxbow, Kabupaten Bandung.
Living laboratory (laboratorium hidup) ekonomi sirkular adalah pendekatan inovatif di mana sebuah komunitas, kampus, sekolah, atau kawasan industri dijadikan pusat pembelajaran langsung untuk merancang, menguji, dan menerapkan solusi ekonomi sirkular.
Fasilitas ini memfasilitasi kolaborasi antara akademisi, pelaku bisnis, dan masyarakat dalam meminimalkan sampah, mendorong guna-ulang, dan mendaur ulang sumber daya secara nyata dalam skala lokal.
Melalui ekosistem yang mengintegrasikan Bank Sampah Induk Bersinar, Local Education, dan Lumbung Mandiri.
YSBI ingin menghadirkan model pemberdayaan masyarakat yang menghubungkan pengelolaan sampah, pendidikan lingkungan, ketahanan pangan, hingga pengembangan ekonomi lokal dalam satu kawasan terpadu.
Ketua Yayasan Solusi Bersinar Indonesia, Indari Mastuti, menegaskan bahwa Bank Sampah Induk Bersinar kini tidak lagi diposisikan hanya sebagai tempat menabung sampah.
"Kami ingin Bank Sampah Induk Bersinar menjadi pusat perubahan. Sampah bukan lagi dipandang sebagai masalah, melainkan sebagai sumber daya yang mampu menggerakkan ekonomi, pendidikan, ketahanan pangan, dan pemberdayaan masyarakat," ujar Indari.
![]() |
| Indari Mastuti (jilbab merah) selaku, ketua YSBI (Yayasan Solusi Bersinar Indonesia) |
Perjalanan Bank Sampah Bersinar Sejak 2014
Didirikan pada tahun 2014 oleh Ibu Fifie Rahardja, Bank Sampah Induk Bersinar telah berkembang menjadi salah satu jaringan pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang aktif melakukan edukasi lingkungan, pendampingan, dan pemberdayaan warga.
Hingga pertengahan tahun 2026, sebanyak 547 Bank Sampah Unit (BSU) telah bergabung dalam jaringan Bank Sampah Induk Bersinar dan menjadi mitra penggerak perubahan di berbagai wilayah Kabupaten dan Kota Bandung.
Bank Sampah Unit (BSU) Adalah fasilitas pengelolaan sampah berbasis Masyarakat di wilayah terkecil seperti RT, RW, desa atau sekolah) yang berfungsi sebagai titik pengumpulan awal.
Warga memilah sampah anorganik untuk disetorkan, ditimbang, dan dicatat dalam buku tabungan layaknya sistem perbankan.
Ke depan, YSBI menargetkan jumlah tersebut meningkat menjadi 1.000 BSU aktif sebagai jaringan kolaboratif yang mampu memperkuat budaya memilah sampah sejak dari sumbernya sekaligus meningkatkan nilai ekonomi dari sampah yang dikelola masyarakat.
Sekolah Peduli Lingkungan Menjadi Bagian Penting Gerakan
![]() |
| Salah satu program Bank Sampah Bersinar mengunjungi sekolah untuk mengedukasi anak-anak akan pentingnya mengelola sampah | sumber IG @banksampahbersinar.id |
Sebagai bagian dari strategi jangka panjang, Bank Sampah Induk Bersinar juga mulai memperluas program edukasi lingkungan ke sekolah-sekolah.
Melalui program sekolah peduli lingkungan, para siswa dikenalkan pada budaya memilah sampah, konsep ekonomi sirkular, serta pentingnya menjaga lingkungan sejak usia dini.
Dalam jangka panjang, sekolah diharapkan mampu membentuk Bank Sampah Unit Sekolah sebagai pusat edukasi sekaligus contoh praktik pengelolaan sampah bagi masyarakat sekitar.
Jadi Gerakan ini merupakan bagian dari upaya membangun Ekonomi Sirkular Indonesia melalui Pentahelix Indonesia Bersinar

















