Wednesday, December 28, 2016

Arti kucing datang ke rumah (belajar tentang sebuah keikhlasan dari seekor kucing)

Disadari atau tidak, banyak sekali kejadian sepele yang terjadi di kehidupan kita sehari-hari. Dan hal tersebut ternyata memiliki arti banyak untuk kita, seperti halnya sebuah kejadian yang saya alami beberapa minggu yang lalu. Hingga kemudian saya pun belajar memaknai akan arti dari kedatangan seekor kucing ke rumah saya. Cause everything happen for a reason.

Sore itu, ketika pulang ke rumah, saya mendapati seekor kucing yang sedang duduk di bawah pohon dekat pintu pagar. Seekor kucing hitam dengan warna putih di bagian dada serta ke empat bagian ujung kakinya.
Pertama melihatnya, saya langsung memanggilnya dengan sebutan kucing kaos kaki yang kemudian saya singkat dengan sebutan Mengkoska .

Warna putih di ujung kaki mengkoska mirip lagi pake kaos kaki :)

Beberapa lama kemudian, saya masih mendapati kucing tersebut duduk di bawah pohon. Posisi badannya kelihatan sedikit terkulai, saya pun menghampirinya dan memegangnya ternyata kaki belakang si kucing  lemas sehingga si kucing tidak bisa berjalan dengan normal.
Melihat hal tersebut, saya jadi merasa kasihan dan membawanya masuk ke teras belakang dan memberinya alas tidur, dus sepatu bekas beralas kain supaya si kucing bisa beristirahat dengan nyaman.

Melihat tampilannya sekilas, Mengkoska tampak seperti seekor kucing garang dengan tatapan matanya yang tajam, tetapi nyatanya Mengkoska adalah seekor kucing lumpuh dengan suaranya yang kecil dan nyaris hampir tak terdengar.

Hingga kini, sudah hampir satu bulan Mengkoska saya pelihara di rumah. Saya bersyukur suami mendukung saya untuk memelihara kucing tersebut. Saya merasa penasaran kenapa kaki belakangnya bisa lumpuh seperti sekarang, semula saya sempat berfikir kalo kakinya mungkin tertabrak motor atau keseleo, dan saya berharap mudah-mudahan kakinya akan kembali pulih dalam beberapa hari, sehingga apabila dia sudah bisa berjalan normal, saya akan melepaskannya kembali ke dunia luar.

Tetapi nyatanya, sampai detik ini, kaki Mengkoska tidak mengalami kemajuan sama sekali, bahkan cenderung mengalami kemunduran. Ketika pertama datang saya sempat memperhatikan kalo kaki belakangnya masih bisa dipake bertumpu, tapi lama-kelamaan kedua kaki belakangnya semakin lemas, dan Mengkoska harus berjalan ngesot.

Melihat hal tersebut, hati saya seolah remuk, saya merasakan sebuah pengalaman yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Melihat seekor kucing yang hanya bisa duduk terkulai lemas, dia harus berusaha keras untuk bergerak, buang air kecil dan buang air besar pun, otomatis spontan di tempat dia berada, Koska tidak bisa menggerakkan kaki nya untuk menggali tanah untuk buang air besar, padahal tadinya saya ingin membelikan Koska bak pasir tempat dia bak (buang air kecil) dan bab (buang air besar).

Baca juga : Tips memelihara Kucing Bagi Pemula

Koska selalu setia menemani saya, Koska senang sekali dielus dan dibelai, tatapan matanya yang seolah seperti berbicara membuat saya sayang kepadanya. Dengan tatapannya Koska seolah berbicara kalo dia membutuhkan kasih sayang dan perhatian. Dan saya bersyukur kalo Koska datang ke ‘rumah’ yang tepat. Our blessing home :)

Sebelumnya saya pernah mendengar sebuah ungkapan, bahwa apabila kita didatangi oleh seekor kucing, hal tersebut merupakan pertanda khusus, bahwasanya ada sebagian rejeki si kucing yang ada di kita dan harus kita bagi. Maka berilah kucing yang menghampiri kita tersebut, makanan atau air minum atau bahkan tempat tinggal untuknya misal dengan mengadopsi kucing tersebut.

Belajar tentang sebuah keikhlasan dari seekor kucing

Dari hari ke hari Koska tidak menunjukkan kemajuan, dia lebih sering tiduran di dalam kardusnya tapi dia terlihat tetap semangat. Setiap pagi saya jemur di bawah sinar matahari dan saya sapa dengan mengajaknya bicara *kalau sesama pecinta kucing pasti tau rasanya gimana rasanya mengobrol sama kucing peliharaan kita :) . Its fun and relaxing. Apalagi ketika si kucing gelendotan di kaki kita dan mengeluarkan dengkuran halus yang memberikan efek menenangkan.

Koska sedang berjemur di pagi hari *abaikan pengki yang menggantung
Dengan datangnya Koska ke rumah saya, seolah mengingatkan bahwa kucing juga merupakan mahluk ciptaan Tuhan yang harus kita sayangi dan sudah seharusnya kita perlakukan seperti kita memperlakukan mahluk hidup lainnya.

Mudah-mudahan ada keajaiban yang bisa membuat Koska menjadi bisa berjalan kembali atau setidaknya membuat dia tetap sehat dan tetap bertahan dalam kondisinya yang terbatas. 

PS : Setelah kondisi Koska semakin menurun, saya memutuskan untuk membawa Koska ke dokter. Setelah sempat disuntik dan diberi obat, sekitar seminggu kemudian, akhirnya Koska menghembuskan nafasnya yang terakhir. Dan kami pun menguburkannya di halaman depan rumah. Good bye Koska. #RIPkoska

Baca juga :  3 Kucing Unik Yang bikin Takjub

Tuesday, December 20, 2016

Belajar Menjadi Travel Blogger Melalui Kitaina.id

Siapa suka travelling? 7 dari 10 orang teman yang saya kenal mengaku bahwa mereka suka travelling. Travelling atau bepergian ke suatu tempat merupakan sebuah pengalaman berharga dan ada kalanya memberikan sebuah kesan yang tidak terlupakan untuk seseorang. Cerita selama travelling biasanya diabadikan dalam bentuk foto, video atau bahkan tulisan.

Nah, supaya pengalaman seru dan menarikmu selama travelling bisa ikut dirasakan oleh teman-teman yang lain, akan lebih baik apabila dituangkan dalam sebuah tulisan berupa artikel yang bisa bisa diposting dan di share melalui akun media sosialmu.


Profesi Travel Blogger

Hari minggu lalu, 18 desember 2016, bertempat di Le Marly café Jl. Citarum No 10, Bandung, ada sebuah acara bertema travel blogger yang menghadirkan seorang travel blogger terkenal yang bernama Mohammad Takdos.

Berfoto bersama di acara #ShareYourIndonesia  bareng travel blogger Adis Takdos | photo source : IG @kitaina.id

Mohammad Takdos atau yang lebih dikenal dengan sebutan Adis Takdos adalah seorang backpacker yang memiliki pengalaman travelling ke berbagai kota dan negara dengan biaya seminimal mungkin yang kemudian pengalamannya itu dia ceritakan kembali secara lugas dan menarik, dengan gaya bahasanya yang konyol dan menghibur di travel blog pribadinya.

Berbicara soal travel blog, sebenarnya tujuan awal saya membuat blog pribadi adalah untuk mengabadikan perjalanan saya ke tempat-tempat wisata yang ada di Indonesia khususnya perjalanan ketika saya tinggal di kota Makassar (2009-2012) dan kota Surabaya (2012-2014). Melalui blog, saya mencoba menceritakan kembali semua perjalanan dan pengalaman yang pernah saya alami sedetail mungkin. Berbekal koleksi foto-foto yang berhasil saya abadikan di handphone, saya mencoba mengingat kembali peristiwa-peristiwa menarik yang pernah saya alami. Dan berhubung perjalanan saya terjadi pada beberapa tahun yang lalu, maka blog saya lebih pas kalo disebut dengan sebutan travel memoar blog sepertinya. Melalui blog kita bisa menceritakan secara detail semua perjalanan menarik dan tak terlupakan yang pernah kita alami dan membaginya ke seluruh dunia, dengan harapan bisa bermanfaat dan menjadi inspirasi bagi orang lain. Dan tak ada kata terlambat untuk segera mulai membuat rangkaian tulisan mengenai pengalaman travellingmu. #BetterLateThanNever

Kembali ke profesi travel blogger, sosok Adis Takdos ini ternyata kocak dan “to the point’ ya?, kocak menurut saya karena tamu undangan yang hadir Le Marly minggu sore itu, ikut terbahak-bahak mendengar jawaban Adis yang cenderung ‘to the point’ dalam menjawab pertanyaan seputar backpacker dan travel blog. #haha. Mungkin karena kekonyolan nya itu yang kemudian menjadi ciri khas sekaligus sebagai nilai tambah yang akhirnya berpengaruh pada jumlah pengunjung blognya yang semakin bertambah dari hari ke hari. *blognya Adis Takdos memiliki pageviews lebih dari 3 juta viewers #great.

Adis Takdos pun berusaha membuktikan bahwa profesi travel blogger adalah sebuah profesi yang cukup menjanjikan. Melalui kegiatan menulis di travel blog nya, Adis bisa mendapatkan penghasilan yang lumayan. Unsur bisnis diselipkan Adis dalam travel blognya melalui penjualan merchandise berupa kaos, tas gendong (backpack) dan paket travel. Dan yang menarik, sebagian uang yang diperoleh dari penjualan barang-barang tersebut, disalurkan ke pihak yang membutuhkan (charity program). 

 
Charity program | The funds would be distributed into the products and school equipment | photo source : www.whateverbackpacker.com

Selain itu Adis Takdos juga menawarkan paket travelling dengan biaya minim ala backpacker yang ga kalah menarik yang dikemas menjadi satu paket dengan produk tas gendong bermotif tradisional khas Indonesia (Product bundling - Geniroga series backpack - with travel package to Lombok). Interesting !
 
Platinum package (bundling product - backpack with travel package to Lombok) | photo source : www.whateverbackpacker.com

Berkenalan Dengan Kitaina.id

Nah, setuju khan kalo profesi travel blogger ini merupakan profesi yang cukup menarik? Dan walaupun tidak setiap orang memiliki blog, hobi travelling dan hobi menulismu tetap bisa kamu salurkan melalui sebuah platform online yang mudah diakses setiap saat, yaitu kitaina.id.

Kitaina.id merupakan sebuah sarana bagi kita untuk berkontribusi dengan BERBAGI CERITA mengenai seputar dunia PARIWISATA dengan tujuan untuk mengubah sudut pandang dunia terhadap Indonesia.

Melalui kitaina.id kamu dapat menceritakan semua perjalanan travelling kamu khususnya ke berbagai tempat wisata menarik yang ada di Indonesia. Sertakan foto yang paling kece dan upload video juga bisa loh (max 20mb).

Untuk berkontribusi di kitaina.id melalui tulisan, sebelumnya kamu harus mendaftar terlebih dahulu dengan cara login ke web kitaina.id kemudian isi data di kolom register berupa data pribadi, nama, alamat email serta kota tempat kamu tinggal. Setelah itu kamu akan dapat email verifikasi untuk mengaktifasi akun tersebut dan kemudian menginformasikan bahwa kamu sudah bisa mulai menuliskan perjalanan travellingmu di kitaina.id. As simple as that :)

Selain tentang tema travelling seperti backpacker, petualangan (adventure), atau pantai dan pulau (beach and island), masih banyak kategori lain yang masih berhubungan dan bisa jadi bahan ceritamu seperti tentang makanan (culinary), budaya (culture), keluarga (family), alam (nature), belanja (shopping), tempat spa (spa and relaxation), olahraga (sports) dan lain sebagainya.


Kitaina Holiday Competition

Kebetulan banget nih, punya banyak cerita tentang travelling yang ingin dibagi, pas kitaina.id bikin lomba bertemakan Holiday In Indonesia. Hadiahnya seru banget lohh, yaitu trip selama 3 hari 2 malam ke Labuan Bajo dimana terdapat 12 lokasi yang akan kamu kunjungi seperti Labuan Bajo, Pulau Kanawa, Pulau Komodo, Jellyfish point, Pulau Kalong, Pulau Padar, Pulau Rinca, Pulau Kelor, Gili Laba, Pasir Timbul, Pink Beach serta Manta Point. Wahhh, seru banget yahh. Bayangin 12 tempat aja gitu lohh. #mupeng.
Yang pasti pulang dari sana, segunung cerita menanti untuk dibagikan pada pembaca di seluruh dunia. *kalau menang *harus menang *pasti menang *yes menang #hihi #maksa.

Kesempatan menarik #KitaINAholiday Competition sponsored by kitaina.id | photo source : IG @kitaina.id


Kompetisi ini berlaku mulai tanggal 09 Desember 2016 sampai dengan 08 Januari 2017, dengan syarat utama cerita harus orisinil alias merupakan hasil karya sendiri, bukan jiplakan atau copy paste cerita orang lain ya.
Untuk info lebih lengkap silahkan kunjungi website kitaina.id dan langsung ikutan aja lomba #KitaINAholiday competition nya !


Share your travel story and always love Indonesia !

#ShareYourIndonesia
#CeritaIndonesia






Thursday, December 15, 2016

Menemukan my me time @Cokotetra

Secara ga sengaja saya menemukan tempat ini. Sebuah coffee shop mungil yang kemudian menjadi salah satu tempat favorit saya. Namanya Cokotetra. Yang ternyata adalah sebuah singkatan dari cokelat, teh, kopi dan sastra.
Cokotetra sudah ada sejak tahun 2012 dan terletak di Jl Ir.H.Juanda, salah satu nama jalan di Bandung yang lebih familiar dengan sebutan jalan Dago. Lokasinya berada sekitar 20 meter dari sekolah islam Darul Hikam (sekolah dasar tempat saya menimba ilmu selama 6 tahun), Cokotetra tepat berada di seberang kantor Bappeda, Bandung.
Tempatnya memang tidak terlalu mencolok, berada di antara deretan ruko dan warung sederhana tempat berjualan makanan.

Cokotetra : A little coffee shop with lots of 'love' :)

Saya lupa, kapan pertama kali saya datang ke Cokotetra, yang saya ingat, saya mendapati nama Cokotetra ketika sedang berselancar di dunia maya mencari informasi tentang sesuatu yang berkaitan dengan buku.
Kala itu, disebutkan bahwa ada suatu kegiatan bertemakan bedah buku yang diadakan di Cokotetra. Ya, saya adalah penyuka buku, saya senang membaca, walaupun koleksi buku pribadi milik saya tidaklah banyak. Dan saya masih mempunyai mimpi untuk memiliki taman bacaan anak  #mydream #booklover.

My tweet tentang mimpi memiliki rumah baca anak :)

Buat saya membaca buku bisa memberikan banyak inspirasi dan bisa mere-charge pikiran. Ada kalanya ketika saya sedang merasa jenuh dan membutuhkan sesuatu yang dapat 'mengembalikan energi', toko buku atau coffee shop with library bisa menjadi salah satu tempat ‘pelarian’ saya kemudian. Saya bisa anteng dan membaca buku berjam-jam, and I’m enjoying it.

My first time @Cokotetra

Pertama kali saya datang ke Cokotetra, saya disambut oleh seorang perempuan muda yang bertugas sebagai waiter. Dia mengucapkan selamat datang, mengulurkan tangannya dan kemudian memperkenalkan diri. And I’m impressed :). That’s nice and I like it.
Ternyata Cokotetra adalah sebuah ‘ruangan sederhana’ yang kemudian menjadi salah satu tempat favorit saya sampai sekarang. Di dalam ruangan terdapat beberapa buah bangku kayu serta meja dan beberapa bangku besi yang terdapat di bagian depan. Dan juga sebuah rak buku yang berada di bagian pojok dekat jendela.


Tampak dalam ruangan Cokotetra | sederhana tapi cukup nyaman

Rak buku di sudut ruangan Cokotetra

Dan saya pun memilih tempat duduk di dekat rak buku tersebut dengan pertimbangan supaya memudahkan saya untuk beranjak dari tempat duduk untuk memilih buku.
Buku yang saya baca pertama kali ketika datang ke Cokotetra adalah buku tentang museum-museum yang ada di Jakarta.

Buku tentang museum-museum yang ada di Jakarta | ternyata banyak museum yang menarik dan wajib kunjung

Minuman yang saya pesan pertama kali di Cokotetra adalah minuman cokelat dingin dengan topping hazelnut. Oya, ketika akan memesan minuman, saya ditawari untuk mencicipi langsung beberapa coklat yang akan dijadikan sebagai minuman kita. Its interesting. 

Pilihan minuman coklat di Cokotetra | i love dark or milk choco | photo source : instagram cokotetra

My me time is reading book @cokotetra

Membaca buku merupakan salah satu me time saya dan membaca buku di Cokotetra terasa seperti berada di rumah, mendapati suasana yang tenang, sambil ditemani musik dengan segelas minuman cokelat dingin, plus wifi tentunya. Di jaman sekarang, sebuah tempat minum kopi tanpa wifi ibarat sayur tanpa garam, *iya ga sih? #haha. Dan momen istimewa saya di Cokotetra ingin saya habiskan hanya untuk menikmati isi buku tanpa gangguan koneksi internet yang cenderung sudah menyita banyak waktu kita setiap harinya.

Secara tidak sadar, setiap berkunjung ke Cokotetra, tempat duduk dan jenis minuman yang saya pilih selalu sama lho.. Kursi kedua dari jendela dan minuman cokelat dingin. *same spot, same drink, different books. Kursi kedua karena sejajar dengan rak buku dan cokelat dingin karena saya tidak minum kopi dan lebih suka minuman cokelat daripada teh
Jumlah buku di Cokotetra tidaklah banyak, tapi koleksi buku yang ada cukup menarik dan membuat saya ingin berkunjung kembali.
Oya setiap pengunjung yang datang ke Cokotetra akan mendapatkan sebuah cap yang bisa dikumpulkan hingga sembilan cap yang apabila sudah terkumpul  dapat ditukarkan dengan satu gelas minuman sebagai reward dari loyalty pengunjung. 

Loyalty card pengunjung Cokotetra

Yuk kita ke Cokotetra lagi!
My me time is dating with books☺

Cokotetra : Drinks and Library
Instagram : @cokotetra
Alamat : Jl. Ir. H. juanda no 322 (Dago), Bandung.
Jam operasional : 11.00 – 23.00 (Senin, Rabu, Jumat, Sabtu)
                                   09.00-21.00   (Minggu)
                                   Libur              (Kamis)
              


Monday, December 12, 2016

Keseruan Acara Food photography Dapur Hangus Playdate

Foodphotography... ga tau kenapa..saya selalu tertarik ketika mendengar tentang sesuatu yang berhubungan dengan food photography.. entah, mungkin karena saya suka makan dan saya suka memotret semua hal yang saya lihat dan saya suka, termasuk diantaranya ya makanan itu tadi hehe.

Dan Sabtu pagi tanggal 10 Desember 2016  saya mengikuti sebuah workshop food photography yang bertemakan Dapur Hangus Playdate, diadakan oleh Dapur Hangus si food photographer yang punya banyak koleksi foto keren bertemakan food photography yang bisa langsung dikepoin di instagramnya.


I love cherry so this is my favourite one | photo source : instagram Dapur hangus

Oya, udah pada follow akun instagram dan akun facebooknya Dapur Hangus khan? Kalau belum buruan deh follow dan kepoin hasil foto nya si empu Dapur Hangus yaitu Ika Rahma. Hasil jepretan mba Ika bagus-bagus bangett..dan sayang untuk dilewatkan begitu saja. Menurut saya hasil jepretan mba Ika terlihat cantik, sederhana tapi sekaligus menggugah hati #eaa maksudnya menggugah hati dalam arti mampu membangkitkan sebuah perasaan bahwa saya pengen banget bisa belajar moto makanan kayak mba Ika #kagum 

Dapet hadiah (goodie bag Dapur Hangus) yang isinya piring dkk #yeay

Foto bawang bombay ini yang berhasil bikin saya dapet hadiah dari Dapur Hangus | thanks to bawang | photo source : instagram dapur hangus


Berkenalan Dengan Dapur Hangus


Pertama kali saya mendengar nama Dapur Hangus yaitu ketika saya sedang membuka akun facebook. Saya mendapati sebuah fanpage facebook bernama Dapur Hangus yang menampilkan foto-foto cantik dengan teknik food photography. Foto nya bagus-bagus dan saya sempat tergoda untuk membeli salah satu property foto tersebut yaitu mangkok bergambar ayam.
Lama berselang saya lupa akan si mangkok ayam itu sampai suatu waktu saya sedang buka-buka akun instagram tiba-tiba muncul sebuah postingan yang menjual mangkok ayam tersebut. Saya jadi keingetan lagi deh sama si mangkok ayam dan langsung menghubungi si pemilik akun yang menjual mangkok itu. Tapi entah bukan jodoh atau gimana, si penjual mangkok merasa kesulitan untuk mengirim mangkok tersebut ke alamat saya, dengan alasan jarak Jakarta Bandung yang tidak memungkinkan. Sampai akhirnya saya pun memutuskan untuk order mangkok ayam ke Dapur Hangus saja yang ternyata berlokasi di kota Bandung juga.
Singkat cerita, transaksi mangkok berjalan lancar, si mangkok ayam sampai ke tangan saya dengan selamat dalam waktu satu hari saja.

Ini dia si mangkok ayam yang sempet bikin penasaran | photo source : facebook fanpage Dapur Hangus

Dan yang berkesan si pemiliki akun dapur hangus, mba Ika Rahma..orangnya cenderung ramah dan cepat akrab loh, buktinya ketika saya chat dengan mba Ika melalui inbox fb saya merasa seperti chat dengan teman. Ga tau kenapa, atau cuma perasaan saya aja? #nahlo 

Sampai ketika mba Ika mengatakan kalau dia suka makan pecel di deket kampus Unisba dan menawarkan tuk ketemuan disitu sambil ngambil si mangkok. Walopun akhirnya engga jadi ketemuan di warung pecel kala itu, baru loh saya transaksi jual beli via online kayak transaksi sama temen. Dan saya baru tahu kalo mba Ika asli orang Kediri dan makanan kesukaannya adalah pecel #catet
Waktu berlalu dan kemudian di bulan Desember ini saya pun kembali dipertemukan dengan si Dapur Hangus dan mba Ika nya langsung di acara workshop food photography yang diadakan oleh komunitas KEB (kumpulan emak blogger).


Belajar Foodphotography Bareng Dapur Hangus


Workshop food photography yang saya ikuti kali ini adalah workshop kedua setelah workshop pertama yang pernah saya ikuti sekitar tahun 2015 lalu di sebuah acara yang bertemakan festival Teknologi dan Ilmu Komunikasi (TIK) yang bertempat di Sasana Budaya Ganesha, Bandung.
Di workshop yang pertama saya belajar food photography di sebuah kelas bersama puluhan orang yang memiliki minat yang sama pada food photography. Laki-laki dan perempuan digabung jadi satu dan sebagian besar dari peserta adalah mahasiswa/mahasiswi dan sebagian lainnya adalah ibu rumah tangga seperti saya, bahkan ada juga yang datang sambil membawa anak.

Baca juga : Belajar Food Fotografi Menggunakan Kamera Handphone

Namun di acara workshop food photography bareng Dapur Hangus, acaranya sedikit istimewa karena lebih personal dan lebih intim. Kenapa demikian? Karena peserta yang ikut hanya berjumlah tujuh orang dan bukan kebetulan pula semua peserta workshop Sabtu itu adalah perempuan berjilbab. Serta masih banyak unsur kebetulan-kebetulan lainnya #bandungsempit #womanwithsamepassion.

Sebelum memulai praktek food photography, mba Ika membuka kegiatan dengan melakukan doa bersama serta perkenalan antar sesama peserta, setelah berkenalan satu sama lain, acara dilanjutkan dengan sesi pertanyaan sambil membahas beberapa poin penting yang dibutuhkan dalam belajar foodphotography yang meliputi pencahayaan (lighting), properti foto (peralatan pendukung foto),  tema yang akan digunakan, alat foto (kamera) dan komposisi.

Dan ketika waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang maka kami pun makan siang terlebih dahulu dengan menyantap menu nasi plus ayam dari Eat Box.

Menu makan siang yang menjadi salah satu objek foto di workshop foodphotography #dapurhangusplaydate

Setelah selesai makan siang dan sholat dzuhur, kegiatan pun langsung dilanjutkan ke praktek foto. Mayoritas peserta menggunakan kamera yang ada di handphone masing-masing walaupun ada juga peserta yang membawa kamera DSLR.
Oya, sebelum beranjak ke praktek foto, ada kegiatan awal yang disebut dengan food styling (menyusun makanan). Food styling dikerjakan oleh Teh Dyah dibantu oleh ibu (madam) Vivera.

Makanan disusun diatas piring dengan komposisi yang semenarik mungkin. Untuk komposisi itu sendiri meliputi ukuran, warna dan posisi. Dan saya baru tahu kalo meletakkan posisi makanan yang akan menjadi objek foto kita itu ada ilmunya loh yaitu dengan menggunakan teknik Rule of Third (ROT). Rule Of Third itu adalah meletakkan objek dengan susunan bentuk segitiga karena mata manusia didesain untuk menyasar seluruh permukaan objek yang dilihatnya. Jadi tidak hanya tertuju pada satu objek di tengah saja misalnya.

Objek foto pertama kami di workshop foodphotography #dapurhangusplaydate

Selain itu masih banyak ilmu lainnya yang mba Ika bagi mengenai ilmu food photography termasuk diantaranya hal penting yang paling mendasar yaitu kenali kamera kita sendiri. Karena nyatanya banyak sekali orang yang menggunakan fitur kamera yang ada di smartphone nya hanya untuk berfoto saja (selfie dsb) tanpa tahu sebenarnya ada fitur apa saja di kamera hp nya tersebut. #termasuksaya #hihi. Padahal jaman sekarang sudah banyak kamera smartphone yang memiliki fitur canggih.

Dan menurut saya kegiatan food photography ini memang menyenangkan apalagi apabila ditekuni dengan benar-benar serius, insyaAllah bisa menjadi sebuah peluang yang menarik yang bisa menghasilkan uang. Seperti mba Ika contohnya, yang awalnya hanya menjual properti foto sampai akhirnya terus menekuni dan hasilnya sampai sekarang ini.

Salah satu liputan tentang mba Ika Rahma di majalah Aulia | photo source : instagram dapur hangus


Contoh properti foto yang bisa mendukung hasil foodphotography jadi menarik

Berikut Ini 6 Fakta Tentang Dapur Hangus Playdate Tanggal 10 Desember 2016 :


  1. Pesertanya perempuan semua dan berjilbab semua
  2. 5 dari delapan orang peserta ternyata tinggal di satu area yang saling berdekatan.
  3. Walaupun berbeda angkatan, ternyata saya, Cucu, ibu Vivera dan mba Ika, sama-sama alumni Universitas Padjajaran.
  4. Saya pertama kali belajar foodphotography sekitar tahun 2014 lalu di sebuah kelas yang dipandu langsung oleh ibu Vivera Siregar. Dan di play Dapur Hangus playdate saya ketemu lagi sama beliau. #bandungsempit . Dan walaupun sudah jadi guru beliau masih terus belajar #kagum
  5. Tanggal lahir saya dan mba Ika ternyata beda 2 hari, saya tanggal 14 Mei mba Ika tanggal 16 Mei #pentinggasih #haha, I mean sepertinya kita memiliki selera yang hampir mirip, buktinya kita sama-sama punya perasaan ‘love at the first sight’ sama si teko biru (produk Kandura Studio), dan kita sama-sama suka hal-hal yang berhubungan dengan foodphotography #maksa, cuman yang jelas bedanya mba Ika udah jago, kalo saya mah masih pemula. #hihi
  6. Acara workshop Dapur Hangus playdate dikemas dengan SANTAI dan MENYENANGKAN. Dapet goodie bag, dapet hadiah, dapet temen baru dan yang pasti DAPET ILMU BARU. Dan juga bikin saya tambah mupeng tuk punya kamera DSLR sendiri. #mywish #mydream

Teko corak biru (properti dari Kandura Studio) yang sudah berhasil menarik perhatian saya dan mba Ika

Yuk cobain deh belajar foodphotography..it is fun, exciting and also challenging !

Friday, December 9, 2016

Closing meeting proyek JUARA (Jaringan Usaha Ramah Anak)

Bandung yang merupakan salah satu kota dari daftar 10 kota tujuan wisata di nusantara memiliki daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Banyaknya tempat wisata yang ada didukung pula oleh banyaknya tempat penginapan (hotel) dan restoran sebagai sarana penunjang yang saling berkaitan satu sama lain. Walaupun sekarang jarak dari kota Jakarta ke Bandung bisa ditempuh dalam waktu sekitar 2 jam yang memungkinkan untuk pulang pergi, tapi tetap saja banyak wisatawan yang ingin menghabiskan waktu berlibur bersama keluarga terutama anak-anak dengan menginap di hotel.

Namun disadari atau tidak masih banyak hotel di kota Bandung yang belum memperhatikan hak anak, seperti misalnya belum tersedianya fasilitas yang ramah anak seperti fasilitas keamanan untuk anak, makanan yang cocok dikonsumsi oleh anak, fasilitas bermain untuk anak dan lain sebagainya. Dalam hal ini anak merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pengunjung hotel dan restoran yang ingin menghabiskan waktu berlibur bersama anggota keluarganya di hotel atau restoran.

Save The Children sebagai salah satu organisasi yang bergerak di bidang kepedulian sosial tentang anak merasa peduli dan menaruh perhatian lebih  ingin bekerjasama dengan pemerintah Indonesia untuk melaksanakan program JUARA yaitu program Jaringan Usaha Ramah Anak.

Program Jaringan Usaha Ramah Anak dengan tema ‘Children’s Rights and Business Principles (CRBP) merupakan perjanjian kerjasama antara pemerintah Indonesia dengan negara Denmark untuk mempromosikan prinsip dunia usaha dan hak anak. Dimana penandatanganan kerjasama tersebut diwakili oleh pihak PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia) Jawa Barat selaku asosiasi yang menaungi perhotelan dan restoran di Indonesia bekerjasama dengan organisasi Save The Children Denmark melalui yayasan Sayangi Tunas Cilik (partner dari organisasi Save The Children).

Kami ikut mendukung program JUARA

Children’s Right and Business Principles (CRBP)

CRBP merupakan inspirasi dan panduan bagi dunia usaha dalam berinteraksi dengan anak karena dengan mengimplementasikan CRBP dalam dunia usaha, banyak MANFAAT yang bisa diperoleh, antara lain :

  1. Membangun reputasi yang baik untuk perusahaan
  2. Berkontribusi untuk usaha/bisnis yang berkelanjutan
  3. Membantu untuk mendapatkan dukungan lebih dari masyarakat dan karyawan
  4. Mengembangkan pekerja yang berbakat untuk meneruskan / menjalankan perusahaannya.
Yayasan Sayangi Tunas Cilik ( Partner of Save The Children).


Yayasan Sayangi Tunas Cilik sejak November 2014 mulai melakukan kegiatan penggalangan dana publik melalui program Save The Children. Program penggalangan dana ini dilakukan untuk mencari dukungan dari donator individu yang ingin berkontribusi langsung membantu program-program Save the Children di Indonesia.

Kegiatan penggalangan dana yang dilakukan oleh Save the Children- yayasan Sayangi Tunas Cilik adalah :

  1. Program Face to face Fund Raising, yakni kegiatan penggalangan dana yang dilakukan di pusat perbelanjaan (mal) atau tempat public lainnya. Staff Save the Children – yayasan Sayangi Tunas Cilik menggunakan seragam resmi (memakai rompi merah dan kartu pengenal / ID card) serta menggunakan sarana penunjang komunikasi (booth untuk display program Save the Children- yayasan Sayangi Tunas Cilik) dan mendapatkan izin resmi untuk melakukan kegiatan penggalangan dana dan melakukan sosialisasi program-program save the Children – yayasan Sayangi Tunas Cilik dari pengelola mal atau tempat public lainnya.
  2. Online donasi melalui website www.savethechildren.or.id atau http://donations.savethechildren.or.id
  3. Telefundraising, yakni kegiatan penggalangan dana yang dilakukan melalui program telemarketing dengan nomor telepon 021- 300 5787.
Tim fund raising (penggalangan dana) Save the Children – yayasan sayangi Tunas Cilik hanya melakukan kegiatan resmi seperti yang diinformasikan diatas. Untuk informasi lebih lanjut terkait kegiatan fund raising Save the Children – yayasan Sayangi Tunas Cilik bisa menghubungi nomor telepon 021- 781 2336 atau melalui email ke DonorServices.ID@savethechildren.org. Dan untuk kantor perwakilan yayasan Sayangi Tunas Cilik cabang Bandung ada di Jl. H.Kurdi Timur I no 1 (daerah Mohamad Toha) dengan nomor telepon 022- 520 3594.

Sekilas mengenai organisasi Save the Children

Save The Children merupakan organisasi internasional independen di bidang anak yang bekerja di Indonesia sejak tahun 1976. Melalui dukungan jangka panjang serta dukungan darurat selama hampir 40 tahun, organisasi Save The Children bekerja untuk meningkatkan kualitas hidup anak-anak demi masa depan yang lebih cerah.
Save the Children berada di lebih dari 120 negara termasuk Indonesia salah satunya dan Save the Children sudah menjalankan program di 12 propinsi di seluruh Indonesia mulai dari Aceh, Jawa, Sulawesi sampai ke Nusa Tenggara Timur.

Yuk dukung kegiatan yang berkaitan dengan anak-anak dengan mem- follow akun media sosial Save The Children

Acara closing Meeting Proyek JUARA (Jaringan Usaha Ramah Anak).

Program Jaringan Usaha Ramah Anak merupakan program 3 tahun, kerjasama antara pemerintah Indonesia dengan negara Denmark yang ditandatangani pada  tanggal 17 Desember 2014 lalu. Dan pada Rabu, 07 Desember 2016 bertempat di aula Graha Tirta Siliwangi program kerjasama antara Save The Children dengan PHRI resmi berakhir.

Dalam pidato sambutannya, bapak Herman Muchtar selaku ketua PHRI Jawa Barat mengharapkan supaya program Jaringan Usaha Ramah Anak ini dapat terus berlanjut. Karena sayang sekali, dari sekitar 300 hotel dan 600 restoran yang ada di Jawa Barat, baru sekitar 5% alias 52 hotel dan restoran yang mengikuti program Juara ini.
Apabila selama 3 tahun ini program Juara tersebut didanai oleh pihak DANIDA (Denmark) maka untuk dapat meneruskan program ini sudah selayaknya pemerintah mengalokasikan dana khusus misal dari dana APBD.

Bapak Herman Muchtar selaku ketua PHRI Jawa Barat memberikan sambutan pertama di acara closing meeting proyek JUARA (Jaringan Usaha Ramah Anak) di Graha Tirta Siliwangi, Bandung
Dalam program JUARA (Jaringan Usaha Ramah Anak), Save the Children ini sudah ada 52 hotel dan restoran di Jawa Barat yang ikut berpartisipasi, diantaranya yaitu : Hotel Papandayan, Hotel Santika, Hotel Panghegar, Hotel Horison, Hotel Mason Pine dan hotel-hotel lainnya termasuk diantaranya 4 restoran yaitu Warung Pasta, Sindang Reret, Bober Café dan Bebek Garang.

PHRI telah menunjukkan komitmennya untuk mendukung upaya bisnis ramah anak dengan menjadi mitra strategis dalam pembuatan toolkit ICC-CSR (Integrated Child Center - Corporate Social Responsibility) diantaranya dengan membentuk kelompok kerja yang terdiri dari lima penasehat yang mewakili manajemen hotel, pemilik hotel, asosiasi hotel dan Sekolah Tinggi pariwisata (STP) Terdapat lebih dari 20 hotel dan restoran yang berperan aktif dalam proses penyusunan toolkit ini untuk memastikan bahwa toolkit yang disusun benar-benar sesuai dengan kebutuhan.

Follow @sarrahgita On Instagram

© sarrah gita's blog. Made with love by The Dutch Lady Designs.