Ajakan Untuk Bermedia Sosial Yang Baik Melalui Acara Gathering Positif Bermedia Sosial Bandung, 24 April 2019

by - April 26, 2019

Ajakan Untuk Bermedia Sosial Yang Baik Melalui Acara Gathering Positif Bermedia Sosial Bandung, 24 April 2019 - Sebagai pengguna aktif media sosial, berasa ga sih kalo satu bulan terakhir ini timeline medsos man-teman khususnya Facebook, dipenuhi oleh berita ramai seputar perhelatan nasional. Ya, ajang Pemilu untuk Pilpres (Pemilihan Calon Presiden) dan Pileg (Pemilihan Anggota Legislatif) yang dilaksanakan pada pertengahan April lalu, memang sedang dan sepertinya masih menjadi topik hangat yang dibicarakan oleh setiap orang khususnya di linimasa medsos.

Banyak sekali komentar-komentar yang muncul tentang event pemilu dan pasca pemilu kemarin, mulai dari komentar positif hingga komentar negatif. Imbasnya muncul berbagai macam polemik yang cenderung meresahkan masyarakat. Dalam hal ini media sosial memang mempunyai peranan yang sangat besar di dalam menggiring opini. Yekan?

Jujur saya sendiri merasa cukup terganggu dengan berita-berita seputar politik yang ada di media massa. Capek ngikutinnya. Ini yang bener yang mana ya? hehe. Dan saya pun memutuskan untuk #matikantv aja dulu dan meng-unfollow akun medsos milik beberapa orang teman yang isi postingannya menurut saya cukup sensitive. Disadari atau tidak medsos memiliki dua mata sisi, bisa mempersatukan masyarakat atau bahkan melemahkan masyarakat melalui konten-konten negatif.

Berkaitan dengan hal tersebut Kemenko PMK (Kementrian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan) bekerjasama dengan beberapa lembaga mengambil inisiatif untuk mengajak rekan-rekan para penggiat media sosial seperti netizen (admin medsos), Relawan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi), blogger, youtuber, duta budaya Jawa Barat, Kelompok Informasi Masyarakat (KIM), dan komunitas lainnya untuk berpartisipasi dalam sebuah acara Gathering bertema Positif Bermedia Sosial.

Gathering Positif Bermedia Sosial Di Hotel De Paviljoen, Bandung


Acara gathering Positif Bermedia Sosial diadakan di beberapa kota besar di Indonesia. Setelah Jakarta dan Surabaya, Bandung menjadi kota ketiga yang dipilih untuk melaksanakan acara tersebut. Dengan pertimbangan jumlah pengguna medsos aktif di Jawa Barat mencapai hampir 17 juta orang dan berasal dari berbagai macam kalangan. Selain itu Bandung juga merupakan kota yang sudah mengadopsi penggunaan teknologi digital dan teknologi informasi di dalam upaya pelayanan kepada masyarakat.



Berlokasi di hotel De Paviljoen jalan LL RE Martadinata no 68 Bandung, acara gathering Positif Bermedia Sosial dilaksanakan pada hari Rabu, 24 April 2019 dan melibatkan sekitar 100 orang milenial yang berkecimpung dalam media sosial dan aktif berkomunikasi dengan menyebarkan konten-konten positif. Seru yaa bisa kumpul bareng mereka, yang sebagian besar adalah anak muda. Hari itu saya jadi ikutan berasa muda lagi nih haha.

Tiba di lokasi sekitar pukul 08.15 saya langsung menuju ke meja registrasi yang rupanya sudah dipenuhi oleh para peserta. Setelah antri beberapa saat dan mengisi daftar hadir, saya pun mendapatkan sebuah tas goodie bag beserta satu buah kaos jersey berwarna biru muda yang harus semua peserta kenakan. Kaos dengan gambar gedung sate, salah satu gedung bersejarah kebanggaan warga Bandung yang juga merupakan kantor gubernur Jawa Barat.





Salah satu isi goodie bag : 3 buah sedotan stainless beserta sikat pembersihnya. yeay salah satu bentuk perubahan ke arah positif #letsgogreen #ayoberubahJABAR

Sekitar pukul 09.00 wib acara pun dimulai. Dibuka secara resmi oleh sekretaris Daerah provinsi Jawa Barat yaitu bapak Iwa Karniwa. Dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa semoga generasi muda bisa turut serta proaktif dan konsisten dalam menyebarkan konten-konten positif yang membangun melalui media sosial. Yang mudah-mudahan dapat mengurangi suburnya penyebaran berita bohong (hoax). Karena musuh terbesar kita hari ini di era digital adalah mereka yang memproduksi hoax dan meresahkan masyarakat. Noted !

Bapak Iwa Karniwa, sekretaris daerah provinsi Jawa Barat membuka acara Gathering Positif Bermedia sosial (mewakili bapak Gubernur Ridwan Kamil yang berhalangan hadir)

Dan berkaitan dengan hal tersebut, Jawa Barat telah menghadirkan Jabar Saber Hoaks yaitu sebuah lembaga yang diharapkan dapat menjawab keresahan masyarakat di era digital terhadap maraknya penyebaran berita bohong yang meresahkan.

Sebagai pengantar mengawali acara gathering, Bapak Nyoman Shuida, selaku deputi Kebudayaan Kemenko PMK pun menyampaikan bahwa pemerintah yakin para milenial di Jawa Barat bisa menjadi agen-agen yang bisa menularkan cara berkomunikasi yang lebih baik dan bisa menyuarakan nilai-nilai revolusi mental yang sesuai dengan Pancasila.

Bapak Nyoman Shuida, deputi kebudayaan Kemenko PMK (Pembangunan Manusia dan Kebudayaan)


 
Gathering Positif Bermedia Sosial di Hotel De Paviljoen, Bandung, 24 April 2019
 

Gerakan Nasional Revolusi Mental Melalui Penggunaan Media Sosial Yang Baik


Selanjutnya para peserta mendapatkan pemahaman tentang substansi aksi nyata revolusi mental dari Bapak Rumadi Ahmad selaku perwakilan dari Gugus Tugas Nasional Revolusi Mental, yang menyampaikan tentang kondisi bangsa kita saat ini, salah satunya mengulas tentang karakter manusia Indonesia yang berkarakter lemah, hipokrit alias munafik, segan dan enggan bertanggung jawab, berjiwa feodal, artistik dan masih percaya pada takhayul. Nah lho, setuju ga nih dengan semua poin-poin barusan. #ayoberubahJABAR



Berkaitan dengan hal tersebut presiden RI yang pertama, yaitu Soekarno pernah berpidato tentang revolusi mental bahwa revolusi mental merupakan satu gerakan untuk menggembleng manusia Indonesia agar menjadi manusia baru yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, dan berjiwa api yang menyala-nyala.



Dan ajakan untuk melakukan revolusi mental kembali digaungkan oleh presiden RI saat ini yaitu Joko widodo bahwa kita perlu melakukan revolusi mental untuk memperkokoh kedaulatan, meningkatkan daya saing dan mempererat persatuan bangsa.



Gerakan nasional Revolusi mental adalah gerakan ke arah yang lebih baik yaitu perubahan cara pandang, pola pikir, sikap-sikap, nilai-nilai dan perilaku bangsa Indonesia untuk lebih baik lagi.

3 nilai yang terdapat dalam gerakan revolusi mental, antara lain :

  1. Integritas  : Jujur, dapat dipercaya dan bertanggung jawab
  1. Etos kerja : Tidak mudah menyerah, optimis dan inovatif
  1. Gotong royong : Gotong royong sangatlah penting karena dengan gotong royong suatu pekerjaan yang tadinya berat pasti akan terasa lebih mudah dan cepat selesai.

Dan tujuan dari diadakannya acara gathering ini adalah untuk mengimplementasikan secara langsung nilai-nilai yang ada di dalam program Gerakan Nasional Revolusi Mental dalam hal ini melalui penggunaan media sosial yang baik.

Kika : Abah Janur (KIM), Alfianto (Jabar Saber Hoaks), Rumadi Ahmad (Gugus Tugas Nasional Revolusi Mental), Valdryno (Facebook Indonesia), Kang Irsan (RTIK) Jabar

Praktik Positif Bermedia Sosial oleh Jabar Saber Hoaks dan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM)


Selain itu hadir pula beberapa orang nara sumber lainnya yang berasal dari beberapa komunitas yang bergerak di bidang media social seperti Jabar Saber Hoaks dan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM). Dan juga hadir sosok muda Valdryno selaku perwakilan dari Facebook Indonesia, yang memaparkan tentang konten-konten positif yang dapat menjadi viral di sosmed seperti Facebook. Wah menarik nih. Apalagi Facebook merupakan salah satu akun medsos yang paling digemari saat ini. Tapi ulasan tentang konten-konten positif yang dapat menjadi viral di sosmed seperti Facebook tersebut akan saya ulas di postingan berikutnya ya.

Dan yang ga kalah menarik, ada beberapa fakta tentang praktik penggunaan medsos dan tentang Hoaks yang disampaikan oleh Jabar Saber Hoaks dan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM). Medsos dan Hoaks memang sangat berkaitan erat. Fakta tersebut antara lain :

  1. Pengguna medsos terus meningkat. 143 juta pengguna internet berasal dari Indonesia (data tahun 2017). Dan sekitar 24 juta orang berasal dari Jawa Barat.
  2. Sebanyak 43,89% orang menggunakan internet selama 1-3 jam
  3. Sebanyak 86% orang menggunakan aplikasi chating dan berinteraksi melalui medsos.
  4. Sebanyak 35,2% orang mengakses media sosial sebagai sumber informasi
  5. Sumber info berisi hoax yang paling sering diterima, 62,10% berasal dari tulisan, 37,50% berasal dari gambar dan 0,40% berasal dari video.






 

Field Visit Ke Museum Gedung Sate


Setelah acara makan siang (ishoma) selesai, sekitar pukul 14.00 siang semua peserta diajak untuk melakukan field visit ke museum Gedung Sate. Jarak dari hotel de Paviljoen ke Gedung Sate memang tidak terlalu jauh hanya sekitar 500 m saja. Kami pun berangkat menuju ke museum gedung sate dengan berjalan kaki. Menyusuri jalan Cimanuk kemudian belok ke arah jalan Cimandiri. 5 menit kemudian kami pun tiba di museum gedung sate. Museum gedung sate berlokasi di area kanan belakang gedung sate. Dan ini adalah pengalaman pertama saya berkunjung ke museum gedung sate. Setelah sejak dari kapan pengen kesana kok ga kesampean terus hehe.




Jujur saya adalah orang cukup tertarik untuk berkunjung ke museum, dengan catatan selama museum tersebut tidak berkesan gelap dan tidak berkesan angker ya hihi.. Soalnya sebagian besar orang memang masih menganggap museum sebagai bangunan yang identik dengan sesuatu yang jadul dan membosankan. Padahal museum adalah salah satu sarana untuk mengingat sejarah bangsa. Seperti halnya museum gedung sate ini. Dengan berkunjung ke museum gedung sate sedikit banyak saya jadi tau tentang asal muasal didirikannya gedung sate tersebut beserta cerita sejarah yang melekat didalamnya.



FYI museum gedung sate resmi dibuka pada Desember 2018 dan merupakan museum pertama di Jawa Barat yang memanfaatkan high technology untuk mengenalkan kekayaan budaya Jawa Barat dan mendorong ekonomi kreatif dengan pemanfaatan kopi lokal.

Sudut Ngopi Saraosna di dekat pintu masuk museum Gedung Sate Bandung



Dan yang menyenangkan, saya bersama teman-teman berkesempatan untuk naik ke area rooftop gedung sate. Itu lho area paling atas dari gedung sate tempat si 6 bulatan yang mirip sate dan jadi perhatian banyak orang. Padahal  sebenarnya itu bukan sate. Melainkan bentuknya lebih menyerupai jambu air. (berdasarkan penjelasan bapak Guide yang saya lupa lagi namanya). Dan 6 bulatan tersebut melambangkan nominal biaya yang digunakan untuk membangun gedung sate tersebut. yaitu sebanyak 6 juta gulden atau kalo dirupiahkan bisa mencapai kira-kira 45 milyar rupiah. Ga heran bangunan gedung sate masih berdiri kokoh sampai sekarang. Gedung sate sendiri dibangun pada tahun 1920 diatas lahan seluas 27 hektar.




Pemandangan dari bagian atas rooftop Gedung Sate

Oya Kalo man-teman ingin berkunjung juga ke museum gedung sate, caranya sangat mudah man-teman bisa melakukan reservasi online via situs remi gedung sate, pilih jadwal kunjungan yang diinginkan dan jangan lupa isi data diri atau data instansi asal teman-teman, setelah itu kita akan mendapatkan tiket voucher sebagai bukti reservasi lewat email. Untuk biaya masuk ke museum gedung sate dikenakan biaya Rp 5000/orang. Sangat terjangkau bukan?



Peran Milenial Sebagai Powerful Generation


Setelah mengunjungi museum gedung sate banyak sekali hal-hal menarik yang bisa kita lihat dan bisa kita bagikan melalui konten-konten positif. Saat ini kita memang membutuhkan Powerful Generation yaitu sosok-sosok milenial yang mampu menginspirasi rekan-rekannya untuk memanfaatkan teknologi secara lebih positif. Dan generasi tersebut harus mempunyai purpose alias tujuan yang baik dengan membuat konten positif yang lebih banyak lagi. Selain itu dukungan dari para orangtua pun ga kalah pentingnya. Orangtua juga harus ikut serta menjadi bagian dari pertumbuhan milenial mereka dengan cara memiliki pemahaman yang cukup.

So, ingat selalu untuk saring sebelum sharing dan Think Before You Post !




Salam,



You May Also Like

3 comments

  1. Yang penting, hati-hati saat posting atau forward, ya. Apalagi menjelang puasa, jangan sampai malah jari yang membatalkan puasa.

    ReplyDelete
  2. Sudah seharusnya kita sebagai pengguna harus sudah sewajarnya patuh pada peraturan di media sosial. Tanks Mba

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung dan berkomentar di blog saya. :)
Maaf, karena semakin banyak SPAM, saya moderasi dulu komentarnya. Insya Allah, saya akan berkunjung balik ke blog teman-teman.