5 Fakta Tentang Pikun Yang Harus Diketahui

Sarrahgita.com - Memiliki orang tua dengan usia lanjut di atas 65 tahun, membuat saya semakin waspada. Waspada dalam arti saya harus siap menghadapi berbagai macam kemungkinan penyakit, yang cepat atau lambat bisa hinggap pada kedua orang tua saya.  


Berdasarkan riset kesehatan dasar tahun 2013 penyakit terbanyak pada usia lanjut adalah penyakit hipertensi (57,6%), Artritis (51,9%), Stroke (46,1%), Masalah gigi dan mulut (19,1%), Penyakit paru obstruktif menahun (8,6%) dan Diabetes melitus (4,8%).


Dan selain penyakit-penyakit tersebut, pikun alias demensia juga termasuk ke dalam penyakit yang banyak diderita oleh para lansia. Karena d
i Indonesia jumlah lansia yang diketahui mengidap penyakit pikun (demensia Alzheimer) mencapai 1,2 juta orang pada tahun 2016. Dan akan terus bertambah seiring berjalannya waktu.

 

Ngomongin soal pikun banyak orang awam termasuk saya yang punya anggapan kalo pikun itu adalah sebuah hal normal yang boleh terjadi pada setiap orang tua. Padahal pikun itu adalah sebuah penyakit yang harus segera diatasi dan bisa dicegah.

.

5 Fakta Tentang Pikun

 

Saya mengetahui kalo pikun itu adalah sebuah penyakit setelah mengikuti sebuah webinar kesehatan yang khusus membahas tentang penyakit pikun. Webinar tersebut diadakan pada hari Minggu, 20 September 2020 melalui aplikasi zoom online dan bisa diakses oleh setiap orang secara gratis. 

Tak heran ada sekitar 700 orang yang mengikuti acara webinar edukatif ini. Dihadiri oleh berbagai kalangan mulai dari  dokter, media hingga masyarakat umum.

 

Acara Festival Digital Bulan Alzheimer Sedunia merupakan bagian dari program kampanye  #obatipikun yang diadakan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI)) dan PT Eisai Indonesia PTEI).

*PT Eisai Indonesia merupakan sebuah perusahaan farmasi dengan filosofi Human Health Care (HHC) yang telah berkontribusi untuk industri kesehatan di Indonesia selama 50 tahun.


 


Berikut ini beberapa fakta tentang pikun yang saya rangkum menjadi 5 poin :


1. Pikun bukanlah hal normal dalam proses penuaan.

Sebuah survei menunjukkan 71% masyarakat menganggap bahwa pikun adalah sebuah hal normal yang terjadi pada orangtua. Sedangkan hanya 6% masyarakat yang mengetahui bahwa pikun adalah sebuah penyakit. Dalam dunia medis pikun dikenal dengan sebutan Demensia.

penyakit demensia



Demensia adalah suatu sindrom gangguan penurunan fisik otak yang dapat mempengaruhi fungsi kognitif, emosi, daya ingat, perilaku dan kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari.


Biasanya ketika seseorang mengalami pikun ia akan butuh waktu lebih lama untuk mengingat atau lupa dengan apa yang ia lakukan sebelumnya. Demensia sendiri ada banyak jenisnya dan demensia Alzheimer merupakan penyebab utama ketidakmampuan dan ketergantungan lansia terhadap orang lain.


Mengutip dari hellosehat.com demensia dan Alzheimer ini sebenarnya adalah dua hal yang berbeda namun saling memiliki keterkaitan satu sama lain. Demensia adalah sebuah istilah untuk menggambarkan sekelompok gejala yang mengganggu fungsi otak. Sedangkan Alzheimer merupakan suatu penyakit yang menjadi salah satu penyebab seseorang mengalami gejala demensia. 

 

Jenis demensia

Dan ketika seseorang mengalami kepikunan, yang menderita bukanlah si pasiennya saja melainkan lingkungan dan orang disekitarnya juga akan merasakan efeknya. 

 

Saya jadi teringat kejadian beberapa tahun lalu, ketika sedang berada di sebuah penginapan ada seorang kakek yang mengalami kepikunan dan tiba-tiba salah masuk kamar. Tentu hal tersebut menimbulkan kepanikan dan kegaduhan. Untung anggota keluaganya segera mencari dan menemukan si kakek tersebut, yang kemudian berujung pada permohonan maaf karena sudah lalai menjaga anggota keluarganya yang sudah pikun.


2. Terdapat lebih dari 50 juta orang di dunia mengalami demensia dengan hampir 10 juta kasus baru setiap tahunnya. Dari banyaknya kasus tersebut Alzheimer menyumbang 60 hingga 70% kasus.


Alzheimer merupakan penyakit yang bersifat bertahap dan berlangsung dalam waktu yang lama. Biasanya seseorang mulai terdiagnosis Alzheimer pada usia 65 tahun ke atas dan cenderung lebih banyak dialami oleh wanita dibanding pria. 

 

Penyakit Alzheimer bukanlah penyakit menular melainkan merupakan sejenis sindrom dengan apoptosis sel-sel otak pada saat yang hampir bersamaan, sehingga otak tampak mengerut dan mengecil.

 


 

Namun apabila ada riwayat anggota keluarga yang pernah mengalami Alzheimer ada kemungkinan resiko kita mengalami hal yang sama di kemudian hari (bersifat degeneratif).Biasanya penyakit ini dimulai dengan gejala pikun ringan seperti mudah lupa akan kejadian-kejadian yang baru terjadi. Kemudian diikuti oleh gejala lain seperti terlihat kebingungan, sulit berkomunikasi, mengalami gangguan kecemasan dan perubahan suasana yang dramatais hingga tidak mampu lagi melakukan aktivitas tanpa dibantu orang lain.



3. Pikun dan pelupa adalah dua hal yang berbeda

Perlu diketahui kalo pikun dan pelupa itu adalah dua hal yang berbeda. Di kehidupan sehari-hari banyak orang yang menyamaratakan istilah pikun dengan pelupa.  Gejala penyakit pikun dan pelupa sekilas memang hampir sama yaitu  lupa menaruh barang pada tempatnya, sulit fokus, salah membuat keputusan dan bingung akan waktu (hari, tanggal) khususnya di saat pandemic seperti sekarang ya, weekend sama weekday tak terasa bedanya hehe. Namun pelupa dan pikun memiliki beberapa perbedaan signifikan yaitu :



Duh, saya jadi lega deh karena saya termasuk ke dalam kategori pelupa. Karena jujur saya seringkali lupa pernah menaruh sebuah barang dimana, dan kemudian mencarinya seharian ataupun lupa akan melakukan pekerjaan apa karena terlalu sering melakukan pekerjaan dalam waktu bersamaan (multi tasking).



4. Pikun tidak dapat disembuhkan. Tapi ada pengelolaan faktor resiko yang dapat mencegah demensia dan mengurangi progresifitasnya. 

Pasien dengan penyakit pikun bisa mendapatkan bantuan berupa terapi dari ahlinya.
Terapi tersebut bertujuan untuk meringankan gejala, memperlambat perkembangan penyakit dan membuat penderita dapat hidup semandiri mungkin.


Penanganan atau terapi pada pasien dengan penyakit pikun meliputi mengatasi terlebih dahulu apa penyebab penyakit pikunnya, memberikan obat-obatan, terapi stimulasi kognitif  (berolahraga atau melakukan permainan fisik seperti membaca buku, menggambar, membuat karya seni, memasak dan aktivitas positif lainnya) serta memberikan perawatan Paliatif (membina kondisi psikisnya, memberikan konseling dan dukungan dari teman dan keluarga).


Beberapa hal yang bisa kita lakukan sebagai upaya pencegahan dari penyakit pikun diantaranya adalah menjaga kesehatan jantung, rutin bergerak seperti berolahraga atau melakukan kegiatan produktif lainnya seperti berkebun atau membereskan rumah misalnya, mengkonsumsi buah dan sayur setiap hari (gizi seimbang), menstimulasi otak, fisik, mental dan spiritual serta aktif bersosialisasi dan beraktivitas positif.

 

Baca juga : 3 Alasan Mengapa Buah Baik Dikonsumsi Sebelum Makan


 

5. Pikun bisa dideteksi sejak dini. 

Apabila kita mulai merasakan ada beberapa gejala pikun yang sering kita alami dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Ada baiknya kita melakukan pencegahan sedari dini. Karena mencegah itu pastinya lebih baik daripada mengobati. 


Untuk mendeteksi penyakit pikun bisa dilakukan dengan cara melakukan konsultasi ke dokter. Biasanya dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan seperti wawancara klinis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan status mental. 

 

Wawancara dilakukan dengan tujuan untuk mengecek apakah ada penurunan intelektual dan gangguan adaptasi keterampilan. Pemeriksaan fisik meliputi pengecekan kondisi tubuh apakah terdapat penyakit-penyakit seperti hipertensi, hipotiroid, kelainan jantung dan penyakit lainnya. Sedangkan pemeriksaan status mental dilakukan untuk mengatahui apakah ada tidaknya gangguan depresi ataupun gangguan mental dan gangguan emosi lainnya.

 

Dalam pemeriksaan status mental ada sebuah instrumen yang digunakan para dokter untuk menilai kognitif global orang lanjut usia. Instrumen tersebut bernama AMT (Abreviated Mental Test). Instrumen tersebut terdiri dari beberapa pertanyaan sederhana seperti umur, waktu / jam sekarang, alamat tempat tinggal, saat ini berada dimana, mengenali orang lain, tahun kelahiran pasien atau anak terakhir dan menghitung terbalik (20 s/d 1). Untuk masing-masing pertanyaan tersebut ada skor / nilai yang diberikan. Sehingga kita bisa tahu termasuk ke kategori mana. apakah ringan, berat atau masih normal



Mendeteksi Pikun Melalui Aplikasi E-MS (Memory Screening)



Nah di jaman teknologi informasi yang sudah canggih seperti sekarang. Sudah ada alat untuk mendeteksi dini demensia yang bisa diakses melalui sebuah aplikasi yang ada di smartphone. Aplikasi tersebut bernama EMS (Memory Screening).

 

Aplikasi E-MS ini diperkenalkan di acara webinar Festival Digital Bulan Alzheimer Sedunia dengan menghadirkan dr. Pukovisa Prawiroharjo, Sp. S (K) yang khusus  menyampaikan tentang aplikasi E-MS sebagai sebuah aplikasi karya anak bangsa yang ditujukan bagi masyarakat Indonesia yang membutuhkan edukasi terpercaya dari ahli, deteksi dini berbasis gadget dan direktori rujukan terpercaya.

 

skrining demensia



Begitu mengetahui ada aplikasi tersebut saya pun langsung penasaran ingin mencobanya. Aplikasi E-MS ini bisa diinstall via App store atau Playstore yang ada di smartphone kita. Ketik saja EMS Sahabat.



Aplikasi E-MS ini sangat user friendly. Kita bisa langsung registrasi dan kemudian login. Setelah login ikuti petunjuk selanjutnya yaitu mengisi form berupa biodata singkat seperti nama, alamat email, tahun lahir dan jenis kelamin. Setelah itu kita diberi arahan untuk menjawab 8 pertanyaan yang bertujuan untuk mendeteksi dini tingkat kepikunan seseorang.

 

fitur memori skrining



Dan setelah menjawab dengan jujur kedelapan pertanyaan tersebut kita akan mendapatkan skor. Yang apabila skornya di atas angka 2 maka user akan diarahkan untuk segera konsultasi ke dokter spesialis plus direktori di rumah sakit mana dokter tersebut bertugas. Dengan jarak maksimal radius 50 km dari tempat tinggal kita.

 

Baca juga : Rumah Sakit Melinda, Bandung Rumah Sakit Nyaman Dengan Pelayanan Lengkap




Contoh skor hasil deteksi dini seseorang yang mengalami kepikunan

Karena saya tinggal di kota Bandung maka muncul informasi dokter spesialis neurologis yang bertugas di beberapa rumah sakit di Bandung (terdapat 32 rumah sakit terdekat radius 50 km) dari tempat saya tinggal.



Oya di menu artikel saya menemukan banyak tulisan bermanfaat dengan tema kesehatan khususnya yang berkaitan dengan demensia.  Yang menarik, selain ditulis oleh admin, artikel-artikel tersebut juga ditulis langsung oleh para dokter ahli yang terpercaya di bidangnya.

 

aplikasi deteksi dini demensia


Semoga dengan adanya edukasi webinar tentang penyakit pikun ini masyarakat semakin peduli akan pentingnya menjaga kesehatan. Dengan harapan kita bisa menjalani masa tua nanti dengan aktif, mandiri dan produktif.

 

Begitupun dengan aplikasi EMS ini semoga  menjadi sebuah solusi bagi masyarakat yang ingin mendapatkan informasi seputar penanganan penyakit demensia. Karena semakin cepat terdeteksi sebuah penyakit maka semakin besar peluang pasien untuk mendapatkan pertolongan.












1 comment:

  1. kalau aku berarti sering terserang pelupa mbak
    apalagi kalau lagi buru buru, kayaknya mau nyari kunci motor aja udah lupa naruh semalem dimana

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung dan berkomentar di blog saya. :)
Maaf, karena semakin banyak SPAM, saya moderasi dulu komentarnya. Insya Allah, saya akan berkunjung balik ke blog teman-teman.