Program Kampanye Rokok Harus Mahal Melalui Siaran Radio KBR

Di era seperti saat ini kita bisa mendapatkan banyak sekali informasi, baik itu dari internet, televisi, surat kabar maupun radio.

Ya, selain memutarkan lagu-lagu favorit, radio adalah salah satu sumber informasi yang juga menyiarkan informasi-informasi bermanfaat mengenai isu-isu penting yang sedang terjadi saat ini.


Mulai bulan Mei s/d Agustus 2018, Kantor Berita Radio (KBR) selaku penyedia program berita untuk lebih dari 600 radio, mulai Aceh sampai Papua (serta radio di Asia dan Australia), mengadakan program  Radio Ruang Publik KBR yang mengangkat tema mengenai program #rokokharusMahal #rokok50ribu

Dan pada hari Rabu, 06 Juni 2018 lalu, tema yang dikupas dalam serial kedua talkshow #rokokharusmahal edisi ke-4 tersebut adalah tentang Kemiskinan, Dampak Rokok Murah dan Capaian SDGs.


Acara tersebut dipandu oleh Arin Swandari, menghadirkan nara sumber bapak Dr. Arum Atmawikarta, MPH selaku Manager Pilar Pembangunan Sosial Sekretariat SDGs Kementrian PPN/Bappenas serta bapak Tulus Abadi, ketua pengurus harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI). 

Acara talkshow yang diadakan mulai pukul 09.00 s/d 10.00 wib itu merupakan bagian dari serial kampanye #rokokharusmahal yang diselenggarakan dengan tujuan untuk mengingatkan, bahwa harga rokok yang saat ini memang masih sangat murah, bisa membuat konsumsi rokok semakin tak terkendali termasuk pada anak-anak dan keluarga miskin.

Melalui siaran radio yang disiarkan di 100 radio jaringan KBR tersebut, banyak pendengar dari berbagai kota di Indonesia yang ikut berpartisipasi tentang pembahasan seputar tema #rokokharusmahal melalui saluran live interaktif 0800-140-3131 dan 0812-118-8181. 

Rokok Dan Siklus Kemiskinan

Berbicara soal rokok, sudah menjadi rahasia umum kalo rokok memiliki efek buruk pada kesehatan. Bisa menimbulkan berbagai macam penyakit seperti penyakit pernapasan, penyakit jantung dan lain sebagainya, bahkan yang menyeramkan seseorang yang berada di lingkungan perokok bisa ikut terpapar penyakit tersebut karena sudah menjadi perokok pasif.

Namun walaupun demikian, jumlah orang yang merokok di sekitar kita masih sangat tinggi, seperti yang disampaikan oleh Pak Jalal, dari Koalisi Bersatu Melawan Kebohongan Industri Rokok, bahwa sekitar 67% pria dewasa di Indonesia adalah perokok aktif, termasuk didalamnya kaum buruh, petani dan nelayan. Bahkan dalam 7 tahun terakhir proporsi kelompok miskin yang merokok pun meningkat. Waduh..miris juga ya. 

Adanya unsur adiksi (zat nikotin pada tembakau) serta keterjangkauan (harga rokok yang sangat murah karena bisa dijual secara eceran-per batang) menjadi latar belakang mengapa mereka cenderung mengabaikan kebutuhan lain yang lebih penting seperti pendidikan, gizi & kesehatan.

Banyak dari mereka yang belum sepenuhnya menyadari bahwa efek jangka panjang konsumsi rokok yang berlebihan, bisa membuat mereka jatuh sakit dan dapat berpengaruh pada produktifitas dalam bekerja sehingga bisa mengakibatkan berkurangnya penghasilan. Sementara di satu sisi mereka membutuhkan banyak biaya untuk pergi berobat ke dokter.

Hal tersebut merupakan sebuah siklus kemiskinan yang harus segera diatasi. Dalam hal ini peran serta pemerintah dan semua pihak terkait memegang peranan yang sangat penting.

Rokok dan SDGs (Sustainable Development Goals)

Berkaitan dengan masalah rokok dan kesehatan, pemerintah memiliki sebuah program tujuan pembangunan berkelanjutan yang harus dicapai. Dalam bahasa Inggris program tersebut dikenal dengan sebutan SDGs (Sustainable Development Goals). SDGs ini merupakan 17 tujuan pembangunan dengan 169 capaian yang terukur dan tenggat yang telah ditentukan oleh PBB sebagai agenda dunia pembangunan untuk kemaslahatan manusia dan planet bumi.

Adapun 4 poin penting dalam SDGs yang berkaitan dengan masalah konsumsi rokok meliputi : 1). kebijakan tentang kemiskinan, 2). kebijakan tentang pangan & gizi, 3). kebijakan tentang kesehatan (termasuk diantaranya tentang pengendalian tembakau) serta 4). kebijakan tentang pendidikan. 

Melalui talkshow tersebut pak Arum menyampaikan bahwa masalah pengendalian tembakau yang erat kaitannya dengan pencapaian SDGs memang cukup kompleks, karena meliputi banyak bidang / lintas bidang. Dimana kebijakan lintas bidang tersebut harus dilakukan secara kontinyu (terus-menerus) dan harus ada sinergi satu sama lain.

Di lapangan sendiri ditemukan beberapa fakta menarik seperti jumlah petani rokok yang ada di Indonesia itu sebenarnya hanya sedikit, sehingga 67% bahan baku rokok diperoleh melalui impor. Adapun dalam hal ini dinas Perdagangan dan dinas Perindustrian memiliki peran penting dalam mengendalikan proses masuknya bahan baku rokok tersebut. 

Dan banyak kendala lain yang dihadapi seperti adanya kekuatan ekonomi dari pihak produsen, faktor politis (harga cukai yang besar, dimana cukai memiliki filosofi sebagai salah satu instrumen pengendalian), dan harus adanya revisi Undang-Undang mengenai harga rokok #rokokharusmahal.

Serta masih banyak kendala-kendala lain yang masih kita hadapi sehubungan dengan masalah konsumsi rokok ini.

Hal Yang Bisa Dilakukan Dalam Rangka Mendukung Program #RokokHarusMahal

Untuk mendukung terwujudnya program #rokokharusmahal sebagai salah satu pengendalian konsumsi rokok di kalangan miskin, ada beberapa hal yang bisa dilakukan, seperti  membuat petisi yang ditandatangani oleh 5000 orang wanita yang setuju dan mendukung akan program #rokokharusmahal. Petisi yang dibuat sebagai salah satu bentuk desakan dari suara publik kepada pemerintah tersebut bisa diakses melalui change.org/rokokharusmahal. 

Atau buat kamu yang hobi menulis, yuk ikuti lomba blog nya dengan cara membuat artikel bertema #rokokharusmahal. Terbuka bagi seluruh blogger Indonesia. Dengan ketentuan lomba sebagai berikut :


1.    Follow akun social media KBR : Facebook Kantor Berita Radio – KBR ; Twitter @haloKBR dan @beritaKBR serta Instagram @kbr.id
2.    Tulisan sesuai tema pembahasan dalam talkshow. Talkshow edisi 3 - diadakan pada tanggal 30 mei 2018 (dengan batas waktu tanggal 06 juni 2018). Talkshow edisi 4 diadakan pada tanggal 06 juni 2018 ( batas waktu tanggal 13 juni 2018) dan talkshow edisi 5 akan diadakan pada tanggal 20 juni 2018 mendatang (dengan bats waktu tanggal 27 juni 2018).
3.     Upload tulisan di blog pribadi dengan memuat frase : *program radio ruang public KBR, hashtag #rokokharusmahal, #rokok50ribu serta link back ke website www.kbr.id
4.   Kirim link blog ke email ruangpublikkbr@gmail.com dengan subject LOMBA BLOG, sertakan juga biodata anda (nama, domisili, akun medsos, Twitter, FB, IG dan nomor HP).
5.     Share tulisan di blog ke media sosial anda dengan mention salah satu akun media sosial KBR dan mencantumkan #rokokharusmahal #rokok50ribu
6. Blogger diperbolehkan mengirimkan tulisan untuk semua episode talkshow (ada 8 episode yang akan dihadirkan hingga Agustus 2018).
7.       Pemenang akan dipilih oleh juri dari KBR.
8.      Tiga tulisan terbaik dari tiap episode akan dilombakan lagi di akhir program untuk dipilih oleh dewan juri menjadi juara 1,2 dan 3. Dengan total hadiah 17 juta rupiah. Keputusan juri bersifat final dan tidak dapat diganggu gugat.
9.     Pendaftaran paling lambat ditunggu 7 hari setelah talkshow.
 
  Mudah-mudahan program #rokokharusmahal #rokok50ribu ini dapat disosialisasikan dengan baik  melalui bantuan sosial media, sehingga semakin banyak masyarakat yang mengetahui dan mulai peduli serta mendukung terealisasinya program ini.
            Oya, berikut ini rekaman acara talkshow tanggal 06 juni 2018 yang bisa anda simak melalui https://www.facebook.com/beritaKBR/videos/1774050292630274/

Yuk kita dukung sama-sama kampanye program RokokHarusMahal ! 

Comments

Siti Fauzia said…
Saya dukung penuh kampanye #RokokHarusMahal. 🤗
Beautyasti1 said…
Harus! Rokok memang harus mahal, untuk merokok pun jadi seperti sesuatu yang langka. Buat seperti itu. Aku dukung.
paling kesel sama sesama pengguna motor, terus mereka teh ngerokok sambil bawa motor. pernah itu mah puntungnya di buang terus kena muka sha. kaget banget. Untung pake kaca helm. Mana masih ada apinya :(
Bunga Lompat said…
Saya setuju rokok dimahalkan, kegiatan merokok disendirikan (diberi tempat sendiri). Hak mereka merokok, tapi kan kita juga punya hak untuk tidak kena asap rokok kan kak?

Apalagi kalau ada yang buang putung rokok di jalan raya ketika lampu merah :) auto jengkel deh.

Tapi bener sih, (bukan meremehkan ya, tapii) saya banyak menemui bapak-bapak yang bekerja di jalanan (tukang becak, penyapu jalanan, sopir angkot) yang merokok. Maksudnya, cpba deh duitnya dirupakan gitu, insyaAllah bisa lebih bermanfaat.

Recent Posts

Follow @sarrahgita On Instagram !

Part Of

Part Of