Tuesday, December 11, 2018

Antara Bandung, Makassar dan Surabaya





Lahir dan besar di kota Priangan membuat saya bangga menjadi orang Bandung. Bandung dengan cuacanya yang relative sejuk serta makanannya yang beragam, enak dan murah. Buat saya, Bandung is a comfort zone. Tak pernah terfikir sebelumnya kalo saya bakal hijrah, tinggal merantau di kota orang. 

 

Hingga akhirnya sekitar tahun 2009, saya mengambil keputusan besar untuk resign dari tempat saya bekerja
dan menyusul suami yang waktu itu ditempatkan bekerja di kota Makassar. Makassar aku dataang, dan percaya atau tidak, jauuh sebelumnya, sebelum saya menikah, saya pernah berkhayal tentang kota Makassar. Ibukota provinsi Sulawesi Selatan yang akhirnya saya tinggali selama kurang lebih 3 tahun.

Tinggal di Makassar, jauh dari orangtua adalah sebuah pengalaman yang baru untuk saya. Dulu pernah sih tinggal jauh dari orangtua, tinggal di Garut selama 3 bulan, hanya karena sedang mengikuti kegiatan KKN (kuliah kerja nyata) dari kampus haha. 

Selama tinggal di Makassar, saya belajar banyak hal. Belajar tentang budaya orang lain, belajar menari anging mamiri sambil pake kostum khas Makassar yaitu baju Bodo. Yang  sempat saya pakai ketika masih sekolah TK (taman kanak-kanak) dulu. Berkunjung ke rumah raja Gowa, yang terletak di kabupaten Gowa, Sulawesi selatan, dan berkunjung ke Fort Rotterdam, salah satu bangunan bersejarah peninggalan jaman Belanda, yang dulu hanya saya baca sejarahnya melalui buku pelajaran di SD (sekolah dasar) . Semacam dejavu gitu kali ya. Haha.

Dan tentu saja saya belajar mandiri, belajar masak, belajar naik pesawat sendiri dan masih banyak lagi. Banyak sekali pengalaman menarik yang saya alami. Seperti pengalaman ketika pertama kali tiba di Makassar, kami sempat tinggal di sebuah ruko kosong dan tidur di lantai beralas kasur berukuran single, hingga berat badan yang naik 3 kilo dalam waktu 3 bulan oemji. Dan gara-garanya adalah karena saya dan suami hampir tiap malam wisata kulineran menikmati berbagai macam makanan khas Makassar haha.  

Iya Makassar terkenal akan kulinernya yang khas, seperti coto Makassar, sop konro, es palu butung, es pisang ijo, kepiting Apong dan berbagai macam makanan khas lainnya. Dan hampir setiap ada teman yang berkunjung ke Makassar kami pun dengan senang hati mengajak mereka untuk berwisata kuliner. Duh gimana ga bikin gendut coba.

Dan ngomongin soal makanan, karena berbeda pulau, saya kerap merasa rindu pada makanan khas Bandung yang ga bisa saya temui di Makassar. Tahu kuning dan pisang Ambon adalah salah satu makanan yang jarang saya temui di Makassar. Jadi selama di Makassar saya suka kangen sama makanan Bandung. Pengen mudik gara-gara makanan. Terutama kangen sama masakan mama. Duh.

Berbeda dengan pengalaman ketika tinggal di kota Surabaya. Saya hampir jarang kangen sama makanan khas Bandung. Ya, setelah tiga tahun tinggal di Makassar, suami dipindah tugas ke kota Surabaya. Kota yang lebih ramai dan lebih teratur dengan berbagai macam jenis makanannya yang ga beda jauh dengan makanan di Bandung karena masih sama-sama di pulau Jawa kali yak.

Yang dibahas kok makanan mulu ya? Hehe iya, saya memang suka banget kulineran dan itu adalah salah satu kegiatan menyenangkan yang sering saya lakukan selama tinggal di dua kota tersebut. Mencicipi makanan baru khas sebuah daerah merupakan sebuah pengalaman yang menarik untuk saya. Semenarik pengalaman pertama saya mencicipi makanan khas kota Surabaya yaitu rujak cingur dan lontong balap.

Bandung, Makassar dan Surabaya adalah tiga kota yang pernah saya tinggali dan memiliki ciri khas makanannya masing-masing. Namun untuk urusan cuaca, Bandung adalah kota dengan cuaca yang paling nyaman dan paling cocok untuk saya. Walaupun ga sesejuk dulu, tapi cuaca Bandung memang yang paling adem. Karena selama tinggal di Surabaya dan Makassar, jujur saya menjadi ketergantungan sama benda yang bernama AC (Air Conditioner). Kalo ga ketemu AC dalam sehari rasanya ga sanggup, gerah banget. Cuaca kota Makassar dan Surabaya memang cenderung lebih panas karena berada dekat pantai berbeda dengan Bandung yang merupakan area pegunungan.  

So, bagaimana dengan pengalaman man-teman, kota mana saja yang memiliki kesan tak terlupakan untuk kuliner dan cuacanya? Share yuk disini.

#bpn30daychallenge2018 
#day14



Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung dan berkomentar di blog saya. :)
Maaf, karena semakin banyak SPAM, saya moderasi dulu komentarnya. Insya Allah, saya akan berkunjung balik ke blog teman-teman.

Follow @sarrahgita On Instagram

© sarrah gita's blog. Made with love by The Dutch Lady Designs.