Pengalaman Menginap di Hotel Saat Corona

Sarrahgita.com - Staycation di hotel bersama pasangan atau keluarga adalah sebuah aktivitas yang menyenangkan. Namun ketika pandemi corona masih melanda, banyak orang yang kemudian mengurungkan niatnya untuk staycation di hotel.


Begitupun dengan saya, saya sempat takut dan khawatir akan protocol kesehatan yang berlaku di tempat penginapan seperti hotel. Kira-kira aman ga ya? Dan rasa kekhawatiran tersebut akhirnya terjawab setelah saya memutuskan untuk staycation di salah satu hotel yang ada di kawasan Pasteur, Bandung bersama suami akhir Desember 2020 lalu.




Menginap di hotel saat corona

 

Menginap di Hotel Saat Corona, Harus Bawa Surat Keterangan Antigen Kah?



Beberapa waktu yang lalu pemerintah mengeluarkan peraturan baru berupa harus melampirkan surat keterangan sudah ikut tes rapid antigen bagi masyarakat yang akan bepergian jauh ke luar kota.

Khususnya bagi masyarakat yang akan menggunakan alat transportasi umum seperti kereta api, bus atau pesawat terbang.

Nah bagaimana dengan menginap di hotel saat corona? Apakah harus bawa surat keterangan tes rapid antigen juga?

Di bagian depan meja resepsionis saya sempat membaca sebuah informasi yang menyebutkan bahwa setiap orang yang akan menginap di hotel harus melampirkan surat keterangan antigen atau apabila tidak membawa surat keterangan, pihak hotel akan melakukan random test kepada setiap pengunjung hotel yang datang.

Tapi ketika kami check in petugas hotel tidak meminta kami untuk melampirkan surat keterangan antigen, kami hanya diwajibkan untuk mengisi dua lembar form isian berupa deklarasi kesehatan dan deklarasi perjalanan minimal 14 hari sebelum check in di hotel.


*Tes rapid antigen adalah tes imun yang berfungsi untuk mendeteksi keberadaan antigen virus tertentu yang menunjukkan adanya infeksi virus saat ini. Rapid tes antigen biasanya digunakan untuk mendiagnosis patogen pernapasan. Seperti virus influenza dan respiratory syncytial virus (RSV). 

Disebut rapid test antigen karena tes untuk mendeteksi virus corona tersebut dapat memberikan hasil diagnosis yang cepat yaitu hanya dalam waktu 15 menit.

Sumber : halodoc.com


Suasana & Fasilitas di Kamar Hotel Saat Corona


Setelah beres check in kami langsung naik ke kamar hotel yang berada di lantai 7. Suasana hotel terasa sepi. Sebagian lampu juga sudah dimatikan. Waktu saat itu menunjukkan pukul 22.00 wib.

Di dalam lift menuju kamar pun hanya ada kami berdua. Dan saya merasa lega karena salah satu hal lain yang juga membuat saya khawatir yaitu protocol kesehatan di dalam lift.

Kabarnya beberapa hotel menerapkan aturan mengalihkan sebagian pengunjungnya  untuk menggunakan tangga (khusus pengunjung di lantai 1 atau 2) demi menghindari kerumunan di dalam lift.

Tak sampai satu menit kami tiba di depan pintu kamar, karena ternyata jarak dari pintu lift ke pintu kamar hanya 6 langkah saja. Dan mengingat ini adalah pengalaman pertama kali saya menginap di hotel saat corona saya penasaran dengan fasilitas protokol kesehatan di dalam kamar hotel.

Dan ketika saya perhatikan, tidak ada hal signifikan terkait situasi corona. Saya hanya melihat sebuah tulisan di atas meja yang isinya mengingatkan pengunjung untuk selalu menjaga protocol kesehatan 3M (memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan menggunakan sabun) selama menginap di hotel. Plus sebuah hand sanitizer gel kemasan  tube yang diletakkan di atas meja.

 

hand sanitizer gel

Selain itu, bersama kunci kamar diselipkan satu buah tissue basah mengandung desinfektan yang bisa digunakan untuk melap permukaan gagang pintu atau permukaan meja.

Btw udara kota Bandung malam itu terasa cukup dingin. Hujan gerimis memang turun sejak tadi sore ditambah dengan dinginnya udara dari pendingin ruangan (AC) yang ada di kamar hotel. Brrr.

Untungnya di perjalanan menuju hotel tadi kami menyempatkan diri untuk mampir membeli dua porsi sate padang. Ternyata makan sate padang di kamar hotel seru juga lho. Seru plus romantis soalnya makannya berdua bareng suami hehe.



kamar hotel
Untuk pertama kalinya makan sate padang di kamar hotel ini. Kok rasanya deg-degan ya wkwk.

 

Sarapan di Hotel Saat Corona



Bangun di pagi hari dengan perut lapar. Saya baru ingat kalo saya dan suami memilih jam sarapan mulai pukul 09-10.00 wib. Ya, pihak hotel membagi jam sarapan menjadi 3 sesi. Yaitu mulai pukul 06-07, 07-08 dan 09-10. Tujuannya adalah untuk menghindari terjadinya kerumunan orang dalam satu waktu di saat sarapan.

 

kolam renang hotel
Pemandangan pagi hari dari balik jendela kamar hotel..kolam renang dilantai 6 tampak sepi

 

Selepas mandi dan menikmati secangkir teh manis hangat kami pun bergegas turun ke area restoran yang ada di lantai dasar. Hanya terlihat dua meja yang terisi oleh pengunjung hotel yang sedang sarapan pagi itu.

Dan ada perbedaan yang mencolok ketika sarapan di hotel saat corona. Ga ada lagi sistem sarapan ala prasmanan (buffet) dengan aneka pilihan makanan yang bisa kita pilih. Seorang wanita petugas hotel pun menyampaikan bahwa nanti akan ada waiter yang datang ke meja pengunjung untuk menawarkan menu sarapan yang ingin disantap.

Setelah menunggu beberapa saat seorang waiter pria bermasker datang menghampiri. Dan sang waiter yang bertugas waktu itu hanya menyebutkan dua menu yang tersedia. Yaitu menu American breakfast dan Indonesian breakfast. Tanpa menjelaskan dengan detail pilihan menu lainnya.

Sayang sekali pihak hotel tempat kami menginap tidak menyediakan buku menu atau lembar menu lainnya atau bar code yang bisa diakses via handphone secara online. Sehingga kami sedikit kebingungan untuk memilih menu sarapan yang akan disantap. Kami pun memutuskan untuk memilih menu American breakfast sebagai menu sarapan.

Baca juga : Menikmati Sarapan di Hotel De Braga by Artotel

 

menu sarapan hotel
Menu American breakfast terdiri dari 3 buah bola kentang,3 sosis goreng yang dibungkus beef bacon serta 2 jenis sayuran.

 

Oya untuk area tempat sarapan sendiri dibatasi, satu meja hanya bisa diduduki oleh 2 orang (dengan jarak ). Dan pagi itu area outdoor di samping kolam renang menjadi salah satu area favorit pengunjung hotel. Ada sekitar 20 orang pengunjung hotel yang memilih tempat duduk di samping hotel sebagai tempat sarapan.

Dan kami pun yang tadinya ingin sarapan di area outdoor tersebut memutuskan untuk makan di area dalam yang masih kosong.


Baca juga : Makan di Luar Saat Corona, Yes or No?

 

Kesan & Pesan Ketika Menginap di Hotel Saat Corona



Saya baru sadar ketika memasuki area lobi hotel tadi malam, saya dan suami tidak diperiksa suhu tubuh. Dan mengingat saya dalam keadaan sehat (suhu badan normal) dan tidak ada keluhan apa pun. Saya tidak menanyakan hal tersebut pada petugas hotel.

Dan setelah mengalami sendiri menginap di hotel saat corona. Sebaiknya pilihlah hotel yang benar-benar menerapkan protokol kesehatan sesuai SOP (Standard Operation Procedure). Pilih hotel berdasarkan rekomendasi teman atau lihat dulu reviewnya dari internet.

Selain itu pilih juga hotel yang menyediakan layanan antar makanan ke kamar. Supaya kita merasa lebih tenang dan aman.  Karena jujur pengalaman sarapan di hotel saat corona untuk pertama kalinya, meninggalkan kesan yang kurang nyaman untuk saya dan suami. Well, setiap orang pasti memiliki pengalaman berbeda ketika menginap di hotel saat corona.

Yang pasti harapan saya semoga badai corona ini segera berlalu supaya aktivitas perhotelan dan pariwisata bisa kembali normal. Karena mengutip dari katadata.co.id hingga April 2020 terdapat sekitar 1266 hotel yang ditutup karena terdampak virus corona. Dan sekitar 150 ribu pegawai kini dirumahkan akibat lesunya bisnis ini.

Dan tentunya juga untuk semua bidang lain, semoga di tahun 2021 ini kita semua bisa segera bangkit lagi untuk menuju ke arah yang lebih baik. Aamiin.






13 Comments

  1. Yang bikin aku penasaran, jika hotel melakukan random test antigen, biayanya ditanggung hotel atau dibebankan ke pengunjung ya mbak? kayaknya opsi kedua ya, sebab jadi extra pengeluaran bagi pihak hotel jika melakukannya.

    Andai di palembang hotelnya ada yang menyatu dengan alam gitu, pingin juga "kabur" staycation di hotel buat refreshing hahaha. Tapi, mostly hotel di Palembang ya dikepung beton kota.

    ReplyDelete
    Replies
    1. nah iya..baru kepikiran juga nih sama aku. tapi ada baiknya kalo layanan test antigen itu diberikan secara gratis. jadi pihak pemerintah kerjasama dengan pihak hotel gitu. maunya sih ya hehe. yuk kita doain semoga pandemi segera berlalu supaya si Om bisa segera refreshing staycation di hotel bernuansa alam di Bandung. Cuss.

      Delete
  2. Menginap di hotel saat pandemi ini rasanya seperti buah simalakama. Berisiko, tapi di sisi lain juga mau bantu hotelier di tengan kondisi ekonomi yang sedang sulit. Semoga kita sehat selalu, ya.

    ReplyDelete
  3. Pengalamanku ketika menginap di Hotel saat pandemi, sudah dijalani berkali-kali. Yang berkesan disaat mulai pandemi pada maret 2020, aku masih melakukan perjalanan ke bandung. karena tiket sudah dibooking jauh hari. Well, agak risk sih, yah tak lupa menjaga kebersihan dan selalu 3M

    ReplyDelete
  4. akkuu belom pernah nih nginep hotel lagi semenjak corona. hikz.. padahal semestinya kita gak boleh takut ya apalagi kalo hotelnya menerapkan standar prokes yang ketat

    ReplyDelete
  5. Pengalaman menginap di hotel itu sangat menyenangkan, apalagi jika hotelnya ramah anak. Wah, pasti anak-anak kerasan staycation. Apalagi jika fasilitasnya lengkap dengan kolam renang dan ada playgroundnya. Tapi selama pandemi ini belum pernah nyobain staycation di hotel ..

    ReplyDelete
  6. Aku pribadi memang masi takut berkelana ke hoteel.. selain itu ibuku juga masi melarang keras untuk pergi2.. semua kita semua selalu di sehatkan yah :)

    ReplyDelete
  7. Saya pun semasa pandemi, sekitar bulan November, pernah staycation dan sepulangnya dari sana malah agak merasa khawatir akan diri sendiri. Kadang bukan hanya fasilitas tempat menginap yang bermasalah, para tamunya pun kadang santai saja nggak ingat jaga jarak.

    ReplyDelete
  8. Ini bagus banget, teh..
    Aku kemarin menginap di salah satu hotel di daerah Dago (saat Corona). Tapi SOP prokesnya gak dijalankan. Aku tulis aja di kertas saran atas apa keluhanku.
    Rasanya gemeeessh iih...

    ReplyDelete
  9. Sampai sekarang saya masih ngga ngerti, kenapa sih banyak tempat komersil yang mewajibkan pemeriksaan suhu tubuh. Karena sepertinya tidak efektif sama sekali menurutku. Lagi pula, mereka yang suhunya tinggi biasanya pasti ngga akan kemana-mana alias bakan tiduran aja.

    Well, semoga pandemi ini segera berakhir ya. Aku pun tak sabar ingin kembali berkelana dan melihat indonesia perekonomiannya pulih kembali

    ReplyDelete
  10. Iyap banget.
    Rerata hotel di Lombok pun, protkesnya juga ketat.
    Tapi, demi kesehatan bersama, pastinya kita semua tentu bisa kooperatif ^^

    ReplyDelete
  11. selama corona setahun ini aq sudah 4 kali staycation, tapi baru mulai rutin tiap bulan selama tahun ini mba karena salah satu alasannya adalah anakku usia 6 tahun sudah mulai jenuh sekali dirumah karena memang dia jarang sekali keluar rumah dan kita nggak ke mall sama sekali hingga hari ini jadi solusi aq dan suami adalah mengajaknya staycation di hotel tiap bulan, untungnya selama corona ini room rate hotel turun yah jadi bisa staycation yang bintang 5 atau 4 karena menurut aq dan paksu prokes mereka lebih baik.

    ReplyDelete
  12. Mungkin karena pandemi ini sudah berlarut-larut terlalu lama dan orang juga terlalu bosan. Memang ada tempat-tempat yang jadi longgar bahkan tidak menerapkan prokes. Semoga pandemi segera berakhir.

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung dan berkomentar di blog saya :)
Untuk menghindari Spam yang masuk, komentarnya saya moderasi dulu ya. .